PANEN: Anggota Banser saat melakukan panen raya dan penanaman jeruk di Desa Tegalweru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Satkornas Banser Ansor, memberikan atensi serius pada Program Patriot Ketahanan. Program ketahanan ini menjadi fokus utama Banser, sebagai perwujudan komitmen menjaga ketahanan pangan nasional.
Kasatkornas Banser, M. Syafiq Syauqi, saat hadir dalam panen dan penanaman jeruk di Desa Tegalweru Dau Kabupaten Malang, menandaskan, jihad kebangsaan dilakukan Banser, dengan mendukung penuh program pemerintah. Melalui sinergi bersama Kementerian Pertanian RI dan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Salah satu bentuk jihad kebangsaan hari ini, adalah menjaga kedaulatan pangan.”
“Saya bangga melihat semangat kader Banser-Ansor Dau, mengembangkan hortikultura unggulan jeruk.”
“Ini bukan hanya wujud kemandirian. Tapi juga langkah nyata mengurangi ketergantungan pada jeruk impor,” ungkap Gus Syafiq, panggilan akrabnya.
Gus Syafiq mengapresiasi produktivitas jeruk Dau, yang mencapai 50.400 ton per tahun dari lahan seluas 800 hektar.
Ia menekankan pentingnya merawat semangat kolektif, agar produksi komoditas buah ini tetap berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, juga digelar Dialog Ketahanan Pangan di Joglo Majelis Darul Aflah, Tlogoweru Dau.
Acara ini juga dihadiri Gus Fuad, Pengasuh Majelis Darul Aflah Tegalweru, kader Ansor-Banser Kabupaten Malang, Kepala Provost Nasional H. Ahmad Syafii, serta penggiat ekonomi desa dan tokoh masyarakat Dau.
“Komoditas jeruk sangat strategis. Potensi alam Dau bisa dikembangkan menjadi ekosistem wisata berbasis alam, seperti wisata petik jeruk.”
“Hal ini akan mengawal komoditas hortikultura dari hulu hingga hilir, sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.
Menurut Gus Syafiq, perlu kerja sama pemangku kepentingan untuk memperkuat skala produksi ekonomi agar harga jeruk lokal lebih kompetitif.
“Peningkatan pendapatan petani harus menjadi perhatian bersama. Intervensi pembatasan impor penting, tetapi penguatan skala ekonomi juga harus dilakukan agar tercipta stabilitas ekonomi daerah dan nasional,” tegasnya.
Terkait masalah ketersediaan pupuk, Gus Syafiq berkomitmen menindaklanjuti kebutuhan petani.
Ia pun meminta untuk disiapkan data luasan lahan dan kebutuhan pupuk, agar segera bisa ditindaklanjuti.
Perkembangan produktivitas jeruk di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang saat ini, memang menunjukkan dinamika yang menarik. Antara pencapaian besar di tingkat daerah dan tantangan riil yang dihadapi petani di lapangan pada tahun 2025.
Secara umum, Kabupaten Malang telah resmi menjadi produsen jeruk terbesar di Jawa Timur pada tahun 2024-2025, mengungguli Kabupaten Banyuwangi.
Data hingga Desember 2025, produktivitas jeruk di Dau tercatat mencapai sekitar 50.400 ton per tahun. Dihasilkan dari lahan seluas kurang lebih 800 hektare.
Desa Kucur di Kecamatan Dau, menjadi produsen tertinggi di wilayah ini dengan kontribusi sekitar 10.237 ton. Disusul oleh desa lain seperti Selorejo dan Sumbersekar.
Di sisi yang lain, terjadi tren besar di mana petani sayur dan apel, mulai beralih menanam jeruk. Terutama jenis jeruk keprok dan siam madu, karena dianggap lebih stabil secara ekonomi dibandingkan tanaman hortikultura lainnya.
Selain itu, di Kecamatan Dau (khususnya Desa Selorejo), juga berhasil mengintegrasikan pertanian dengan pariwisata.
Dengan strategi Petik Jeruk, ternyata mampu membantu petani menjaga margin keuntungan ketika harga pasar sedang turun.
Wisatawan biasanya dikenakan tarif tiket masuk yang terjangkau, sekitar Rp5.000- 10.000 dan dapat membawa pulang jeruk dengan harga sekitar Rp5.000 – 15.000 per kg tergantung kualitas. (*/Ra Indrata)




