Rapid Assesment Puskesmas Koto Alam oleh klaster psikososial. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Hari pertama layanan bagi pengungsi pasca galodo/banjir bandang, klaster psikososial relawan respon bencana Sumatera Barat melaksanakan asesmen kesehatan mental.
Tujuannya adalah memastikan kondisi kesehatan mental tenaga kesehatan dan tenaga medis di Puskesmas Koto Alam, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Rabu (10/12/2025).
Tindakan ini penting, agar para dokter dan perawat bisa tetap prima dalam merawat para pengungsi.
Tim psikososial di lokasi terdiri dari dr. Zuhrotun Ulya, Sp.KJ (K), Dr. Ns. Mukhamad Fathoni, S.Kep., MNS dari Universitas Brawijaya dan Bella Virgianitia Afifa dari Universitas Muhammadiyah Malang.
Mereka juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kuesioner PHQ-4 dan SHQ-12 terhadap 28 tenaga kesehatan dan tenaga medis yang hadir aktif
Ini sesuai permintaan Kepala Puskesmas Koto Alam yang khawatir dengan kondisi mental stafnya.
“Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan merasa kewalahan. Karena mereka tidak hanya bekerja sebagai tenaga kesehatan. Tetapi juga menghadapi dampak sebagai pengungsi. Mereka termasuk kelompok yang rentan,” ujar Ulya.
Ulya menambahkan bahwa umpan balik dari pemeriksaan cukup positif.
“Bahkan kepala puskesmas berharap program pendampingan psikososial bisa berjalan secara rutin meskipun timnya nanti berbeda,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa sebagian besar nakes tidak selalu menunjukkan gejala trauma yang terlihat di permukaan.
“Terlihat baik-baik saja. Tapi begitu mereka berada di ruangan yang gelap atau sendirian, bayangan kejadian banjir tetap sering muncul. Atau ada suara-suara yang terdengar dalam memori mereka,” kata dosen Fakultas Kedokteran itu.
Untuk membantu mengurangi gejala trauma, tim kami mengajarkan teknik pernapasan dan grounding.
“Setelah hari ini, kami berniat kembali dua hari lagi untuk mengevaluasi sejauh mana dua teknik ini mampu menguatkan jiwa para nakes dan menentukan kebutuhan mereka selanjutnya,” tambahnya.
Selain pada tenaga kesehatan, pendampingan psikososial juga diberikan kepada siswa-siswi SD 05 Koto Alam, dengan fokus pada kelompok remaja karena pendekatan yang lebih mudah diterapkan di usia itu.
Dari evaluasi ini, Ulya berharap akan ada pendampingan kesehatan mental yang berkelanjutan dari tim berikutnya agar para pengungsi dan komunitasnya bisa pulih lebih cepat. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




