RESAPAN: Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, MS, IPU, mantan Rektor Universitas Brawijaya (UB), yang dikenal sebagai pencetus konsep sumur injeksi. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Sejumlah titik di Kota Malang, Jawa Timur, dilanda banjir sejak hujan deras yang turun sejak akhir November. Berdasarkan catatan redaksi Malang Post, setidaknya ada 39 lokasi yang terdampak.
Banjir yang kembali melanda wilayah-wilayah Malang bukan semata soal keterbatasan infrastruktur.
Hal itu diungkapkan Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, MS, IPU, mantan Rektor Universitas Brawijaya (UB) yang dikenal sebagai pencetus konsep sumur injeksi (sumur resapan) untuk menabung air dan mencegah banjir di wilayah Malang Raya.
Ia juga merupakan guru besar pengairan pertama di Indonesia yang memopulerkan teknologi ini, yang kemudian diadopsi di berbagai daerah, termasuk Jakarta.
Prof. Bisri menegaskan bahwa akar masalah banjir tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.
“Water is everybody’s business. Air itu urusan semua orang,” katanya saat dihubungi wartawan pada Rabu (10/12/2025).
Menurutnya banjir disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari sampah yang dibuang sembarangan hingga saluran yang tidak dirawat bertahun-tahun.
Karena itu, ia mendorong lahirnya sistem kerja rutin yang melekat. Bukan hanya gerakan sporadis setiap kali banjir datang.
Kota Malang sebenarnya memiliki jaringan drainase yang cukup luas. Namun kualitasnya menurun karena tidak ada sistem perawatan yang berkelanjutan.
“Kita sudah punya banyak saluran, kok. Tapi maintenance-nya itu yang masih kurang,” ujar mantan rektor periode 2014-2018 tersebut.
Ia menilai pekerjaan besar seperti pembangunan saluran baru akan sia-sia jika tidak diiringi perawatan yang konsisten.
Dahulu, Kota Malang pernah memiliki ide Satgas (Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen) GASS di tiap kelurahan—tim kecil khusus pengelolaan drainase dan sampah sedimentasi.
Satgas Gass diharapkan dilengkapi dengan peralatan pengeruk sedimen, alat pengambil sampah, perlengkapan pembersihan saluran, serta anggaran operasional.
“Sehingga sudah rutin, bukan lagi gerakan-gerakan sporadis seperti hari ini,” tegasnya.
Menurutnya konsep ini perlu dihidupkan kembali, diperkuat dan diterapkan secara berjenjang. Mulai dari Satgas tingkat kelurahan, koordinator di kecamatan, hingga Satgas kota di bawah Dinas PUPR dan DLH.
Dengan sistem ini, penanganan drainase bisa berjalan setiap hari. Sehingga saat ada masalah, Satgas sudah hafal saluran mana yang bermasalah.
Selain itu, karena Malang adalah kota pendidikan, Prof. Bisri mendorong kolaborasi langsung antara kampus dan kelurahan.
UB, misalnya, bisa bekerja sama dengan wilayah-wilayah terdekat seperti Penanggungan, Gadingkasri dan Dinoyo.
“Kolaborasi digilir. Jadi sudah otomatis bisa eksekusinya per kelurahan. Tidak seluruh kota Malang. Ide-idenya memang ada Satgas-Gass di tiap-tiap kelurahan,” jelasnya.
Lalu, solusi jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan drainase makro. Kini ia mengembangkan konsep SDBSI (Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi), sebuah pola mikrodrainase yang tersebar di tingkat RT/RW.
Tujuannya menahan air di titik terkecil, mengurangi limpasan ke jalan dan mempercepat surutnya genangan.
“Selama ini kita memang menangani makro. Tidak apa-apa, di jalan-jalan besar tetap jalan. Sekarang kita perlu fokus ke mikrodrainase,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa banjir tidak bisa hilang 100 persen di daerah tropis seperti Malang. Tetapi durasi dan tinggi genangan dapat dikurangi dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan.
Ringkasnya, pandangan para ahli dan praktisi melihat banjir Malang sebagai masalah bersama yang membutuhkan kerja berkelanjutan, kolaborasi lintas institusi serta pendekatan mikrodrainase yang menyentuh skala per kelurahan hingga RT/RW.
Dengan komitmen nyata dan perencanaan jangka panjang, kota ini bisa merintis perubahan yang lebih manusiawi bagi warganya. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




