Firdha Mahrifatul Zana lulusan terbaik jenjang S3 Prodi Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Perjalanan akademik tak selalu berputar di seputar nilai dan pujian. Di usianya yang ke-26, Firdha Mahrifatul Zana, atau akrab disapa Firdha, membuktikan bahwa tekad dan ketahanan mental juga bisa menjadi kisah inspiratif.
Ia dinobatkan sebagai lulusan unggulan wisuda UM periode ke-136, Sabtu (6/12/2025), usai meraih gelar doktor melalui program PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul). Bagi Firdha, pendidikan tinggi adalah medan untuk membentuk kekuatan batin yang tangguh.
Dalam sesi wawancara seusai upacara, Firdha mengungkapkan bahwa program PMDSU memberinya pengalaman melampaui batas akademik.
“Ternyata sekolah akademik pun itu bisa menempa mental. Nggak harus di militer,” ujarnya dengan nada tenang.
Menurutnya, riset mandiri, ritme kerja yang intens, serta proses revisi dan penolakan jurnal berkali-kali, itu turut membentuk kecerdasan emosional dan spiritual yang selaras dengan komitmen SDG 4 tentang pendidikan berkualitas.
Secara akademik, Firdha menilai PMDSU sebagai program “the best” untuk mencetak peneliti muda. Ia mengisahkan titik nol perjalanan risetnya hingga akhirnya mampu menjadi peneliti mandiri.
“Saya belajar semuanya dengan bimbingan Dosen Promotor dan Kopromotor. Dari tidak paham jurnal sampai akhirnya percaya diri menulis artikel untuk Q1 dan Q2,” katanya.
Namun sisi non-akademik justru menyajikan ujian kebijakan mental yang lebih berat. Hubungan dengan promotor digambarkan Firdha seperti “hubungan anak dan orang tua tanpa ikatan darah.”
Ketangguhan itu kembali menguji saat ia harus menghadapi kenyataan ibunya wafat tepat sebelum sidang.
“Saya belajar menerima takdir. Bisa jadi jalan berbelok itu justru jalan terbaik dari Allah,” ungkapnya, lahir di Kediri pada 1999.

Dr. Firdha (empat dari kiri) saat mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universiti Malaya, Kuala Lumpur. (Foto: Istimewa)
Dalam penelitiannya, Firdha mengembangkan asesmen matematika berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan menggabungkan dua dimensi asesmen.
Selama ini, kebanyakan asesmen fokus pada satu dimensi, yaitu proses berpikir (C1-C6 dari Taksonomi Bloom).
Penelitiannya memadukan dimensi proses berpikir dengan dimensi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif) dari Anderson dan Krathwohl.
Inovasinya terletak pada pengembangan asesmen yang tidak hanya mengukur level berpikir kritis, tetapi juga jenis pengetahuan yang ingin dicapai.
Ia berharap inovasi ini dapat menjadi alat ukur nasional setara TOEFL, dan saat ini sedang mengurus hak atas kekayaan intelektual (HKI) untuk buku yang ia rancang.
Pengalaman pertukaran pelajar saat menjalani PMDSU di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, selama tujuh bulan menambah warna perjalanannya.
Setelah lulus, Firdha berharap bisa kembali ke UM untuk mengabdi sebagai dosen dan melanjutkan penelitian ini agar manfaatnya lebih luas.
“Saya ingin membumi, kembali ke UM, dan melanjutkan penelitian ini agar manfaatnya lebih luas,” ujar Doktor Termuda lulusan Prodi S3 Pendidikan Matematika itu.
Kisah Firdha menjadi contoh nyata bahwa ketahanan mental, keberanian menghadapi tantangan dan keterbukaan terhadap peluang dapat membuka jalan menuju kesuksesan yang bermakna.
Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masa depan pendidikan Indonesia. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




