Karakter model 3D dalam program ecoartpreneurship Skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) oleh tim Universitas Negeri Malang (UM). (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Universitas Negeri Malang (UM) mengawali langkah kreatif berbasis ekologi lewat program Ecoartpreneurship yang memanfaatkan loose parts sebagai media edukasi bisnis seni di wilayah pesisir Pacitan.
Program pendanaan tahun 2025 ini dipimpin oleh Rachmad Hidayat, S.Pd., M.Pd. Melalui Skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan.
Gagasan ini lahir dari kebutuhan nyata di pesisir Pacitan, dimana sampah plastik menjadi persoalan utama dan praktik permainan tradisional terus menipis.
Melalui kombinasi desain 3D dan pemanfaatan limbah plastik, Ecoartpreneurship berupaya menghadirkan seni berkelanjutan yang tidak hanya mempercantik lingkungan. Tetapi juga mengangkat nilai budaya lokal serta meningkatkan literasi lingkungan bagi generasi muda.
Pada tahap awal, tim merumuskan produk seni edukatif yang mudah dipahami publik. Salah satu karya unggulan adalah karakter Booto, sebuah tokoh imajinatif yang dibangun dengan bantuan perangkat lunak 3D Blender.
Booto hadir dalam lima varian tematik: 1. Booto Konservasi Hutan Bakau, 2. Booto Pilah Sampah, Booto Konservasi Habitat Penyu, 3. Booto Konservasi Terumbu Karang, 5. Booto Konservasi Hasil Laut.
Setiap varian menyampaikan pesan ekologis yang relevan dengan konteks pesisir Pacitan—mulai dari pelestarian mangrove hingga pentingnya menjaga ekosistem laut.
Program ini menekankan inovasi seni berbasis pemberdayaan serta ecoartpreneurship, dengan melibatkan mahasiswa, pengrajin lokal dan komunitas Pacitan Cerdas.
Kolaborasi lintas desa dan kampus ini bertujuan agar setiap produk tidak hanya punya nilai estetika, tetapi juga arti ekonomi bagi komunitas setempat.
Menurut Ketua Tim, Rachmad Hidayat, desain Booto menjadi fondasi produksi seni berbasis loose parts menggunakan teknologi 3D printing.
“Kami ingin karya seni yang tidak sekadar indah, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi. Booto dirancang agar mudah dipahami anak-anak dan orang dewasa tentang konservasi.”
“Teknologi 3D printing memungkinkan kami mengubah limbah plastik menjadi karya yang presisi, layak, dan fungsional,” ujarnya dengan penuh semangat.
Perwakilan Komunitas Pacitan Cerdas menyatakan bahwa program ini membuka ruang pembelajaran teknologi, seni, dan konservasi secara terpadu.
“Karakter Booto berpotensi menjadi ikon edukasi lingkungan masa kini yang bisa menginspirasi generasi muda serta menguatkan rasa memiliki terhadap lingkungan,” kata mereka.
Tahapan selanjutnya mencakup produksi filament plastik ramah lingkungan, pelatihan 3D printing untuk warga setempat, uji prototipe bersama komunitas, serta pengembangan strategi pemasaran digital untuk memperluas distribusi produk seni ekologis.
Secara keseluruhan, Ecoartpreneurship UM diharapkan menjadi contoh model integratif bagi daerah pesisir lainnya.
Program ini menggabungkan seni, teknologi, ekologi dan pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat ekonomi kreatif Pacitan secara berkelanjutan.
Sebuah langkah yang tidak hanya memperindah pesisir, tetapi juga menumbuhkan harapan dan kemandirian komunitas lokal. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




