MALANG POST – Upaya memperkuat jejaring usaha dan membuka ruang kolaborasi antara pelaku usaha besar dan UMKM terus digencarkan Pemkot Batu. Salah satunya melalui kegiatan Njagong Bareng bertema ‘Temu Kemitraan Usaha Besar dan UMKM Kota Batu’ yang digelar DPMPTSP Kota Batu.
Forum santai namun produktif ini mempertemukan pelaku usaha dari berbagai sektor. Mulai pertanian dan gapoktan, pokdarwis, ekonomi kreatif, BUMDes, hingga pelaku usaha makanan-minuman. Sejumlah perusahaan besar juga turut hadir, di antaranya BPJS Ketenagakerjaan, Bank Jatim, Alfamart dan Hypermart, memberi ruang dialog langsung yang jarang terjadi di forum lain.
Analis Kebijakan Ahli Madya DPMPTSP Kota Batu, Bambang Supriyanto menegaskan, bahwa kegiatan ini sejalan dengan amanat Perda Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pemberdayaan Usaha Kecil. Dalam regulasi tersebut, usaha besar berkewajiban membuka ruang kemitraan minimal 20 persen bagi usaha mikro dan kecil.
“Harapannya kemitraan ini mendorong UMKM naik kelas, memperluas akses pasar, akses pembiayaan, dan memperkuat daya saing lokal,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Menurut Bambang, kemitraan yang solid akan menciptakan rantai pasok yang lebih sehat, sekaligus memudahkan UMKM beradaptasi dengan dinamika pasar.
“Melalui Njagong Bareng, Pemkot Batu menegaskan komitmennya untuk terus mendorong UMKM agar semakin kompetitif, memiliki akses pasar yang luas dan mampu bersaing di sektor-sektor unggulan Kota Batu,” tuturnya.

NJAGONG BARENG: Pemkot Batu saat mempertemukan pelaku UMKM dan Usaha Besar untuk membuka kolaborasi antara keduanya. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Pembekalan materi disampaikan konsultan bisnis Tommy Budi R. yang membawakan tema ‘Strategi UMKM Bertahan di Tengah Dinamika Ekonomi Global’. Ia memotret kondisi pasar dunia yang kini terpengaruh inflasi global, lonjakan suku bunga, hingga percepatan transformasi teknologi dan energi.
Menurut Tommy, banyak UMKM tumbang bukan karena tidak punya produk bagus, tetapi karena lemahnya perencanaan keuangan, salah menarget pasar, serta minim adaptasi digital.
“Kunci bertahan itu kolaborasi, inovasi, membangun ekosistem bisnis dan mengikuti arah pasar,” tegasnya.
Ia juga menekankan strategi deeper, wider, stronger. Deeper yakni menggali lebih dalam ceruk pasar dan karakter konsumen, wider yakni memperluas pasar dan saluran distribusi serta stronger yakni memperkuat branding serta diferensiasi produk.
Tommy menyebut Kota Batu memiliki modal besar untuk membangun ekosistem terintegrasi antara pariwisata, agrobisnis, kuliner, retail, hingga industri kreatif. “Tinggal diperkuat jejaringnya,” ujarnya.
Rangkaian acara berlanjut dengan sesi dialog. Para pelaku usaha memaparkan pengalaman hingga kendala usaha, mulai dari pengembangan produk kreatif, penguatan BUMDes, hingga pemasaran komoditas lokal.
Respon positif datang dari perwakilan perusahaan besar seperti Bank Jatim dan BPJS Ketenagakerjaan. Mereka menyatakan siap membuka diskusi lanjutan terkait peluang pendampingan, pembiayaan dan pola kemitraan berkelanjutan.
Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara usaha besar, UMKM dan perangkat daerah. Kesepakatan ini menjadi penegasan bahwa kolaborasi tidak berhenti pada forum, melainkan dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan. (Ananto Wibowo)




