MALANG POST – Mengangkat kisah perjuangan sebuah keluarga di Malang, mendampingi dua anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), presenter sekaligus jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) Malang, Esty Sulistya, kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Karya feature radio berjudul: Never Ending Hugs: A Journey of Supporting Autistic Children (Pelukan Tiada Akhir: Kisah Perjalanan Mendampingi Anak Autis), berhasil menyisihkan ratusan karya dari puluhan negara-negara anggota Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU).
Kalau tahun lalu, Esty membawa pulang gelar Juara Pertama ABU Prizes 2024 untuk kategori Radio/Audio On Air Personality di Istanbul Turki.
Tahun ini, mewakili Radio Republik Indonesia (RRI), ia berhasil mendapatkan Special Commendation (Penghargaan Khusus) dalam kategori Radio/Audio ABU Perspective Awards ABU Prizes 2025 di Ulaanbaatar Mongolia.
ABU Prizes merupakan kompetisi tahunan bergengsi, yang mempertemukan karya-karya terbaik di bidang penyiaran radio, televisi, dan media baru dari negara-negara di kawasan Asia-Pasifik.
Ajang ini menjadi tolok ukur kualitas produksi media yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan keberagaman.
Direktur Program dan Produksi LPP RRI, Mistam menyampaikan rasa bangga atas capaian ini dan menegaskan komitmen RRI, untuk terus menghasilkan karya-karya jurnalistik yang berdampak bagi masyarakat.
“Penghargaan ini merupakan bukti, kerja keras dan dedikasi insan RRI dalam menyuarakan isu-isu penting di tengah masyarakat mendapatkan pengakuan dunia,” ujarnya.
Dengan kemenangan ini, RRI kembali menunjukkan posisinya sebagai salah satu lembaga penyiaran publik yang konsisten, dalam mengangkat cerita-cerita menarik dan berkualitas dari pelosok negeri ke panggung internasional.
Tahun 2025 tema kategori ABU Perspective Award adalah Journey. Karya Esty Sulistya yang berjudul Never Ending Hugs, bertujuan membuka mata dan hati publik terhadap realitas anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) yang masih mendapat stigma negative.
“Isu tentang disabilitas perlu terus diserukan. Selama ini saya concern pada isu-isu disabilitas dan inklusifitas.”
“Salah satu yang saya prihatin, orang tua yang memiliki anak autis sering menghadapi tantangan. Mulai dari stigma negatif, keterbatasan akses layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai, hingga beban psikologis yang tinggi akibat tuntutan pengasuhan yang lebih intensif.”
“Padahal orang tua memiliki peran penting sebagai pengasuh, fasilitator utama dalam intervensi perilaku, pendidikan inklusif, serta penguatan keterampilan sosial dan komunikasi anak,” kata Esty, bertepatan peringatan Hari Disabilitas Internasional, Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, kisah perjalanan keluarga Nihan Werdi Sesulih, Warih Gunawan dan anak-anaknya, memberi contoh tentang pentingnya membuat sistem pendukung yang baik, deteksi dini, penerimaan keluarga, terapi yang tepat, perawatan, pentingnya pendidikan, dan penanganan anak autis dalam keluarga, sekolah dan lingkungan.
Terlebih data Kemenkes menyebutkan di Indonesia, sekitar 2,4 juta anak mengalami gangguan spektrum autism. Jumlahnya terus meningkat dan setiap tahun diperkirakan ada 45 ribu kasus baru.
Tren peningkatan kasus ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia di masa depan, baik dari sisi pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan hak-hak anak.
Oleh karena itu perlu memberi informasi, dan membangun kepedulian semua pihak mengenai autis.
“Yang dilakukan Mbak Nihan dan keluarganya adalah perjuangan nyata yang dihadapi banyak keluarga di Indonesia dan di berbagai negara.”
“Oleh karena itulah, tim juri ABU Prizes Award menilai bahwa kisah Never Ending Hugs inspiratif, relevan secara lokal dan global, dan layak mendapatkan penghargaan Khusus dengan Pujian Istimewa,” terang perempuan yang bernama asli Etik Sulistyaningsih ini, sambil menunjukkan piagam penghargaan yang diperolehnya.
Sementara itu, Nihan Werdi Sesulih yang menjadi narasumber dalam feature Never Ending Hugs ini, mengapresiasi RRI dan raihan penghargaan ini sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan inklusi di Malang.
“Terima kasih RRI yang selalu membersamai kami. Karya ini adalah refleksi tentang bagaimana kami para orangtua anak dengan autis, yang tidak tahu sampai kapan kami akan memeluk anak kami. Kami harus terus memberi kasih sayang, terus belajar dan tidak pernah putus asa,” ujar Nihan.
Nihan yakin, karya ini dapat menginspirasi dan membangun optimisme orangtua tentang pentingnya dukungan yang tepat terhadap anak autis agar menemukan potensi terbaik, mandiri, dan siap menghadapi masa depan, di tengah tantangan dalam penanganan disabilitas di Indonesia. (*/Ra Indrata)




