DUET: Luiz Gustavo dan Marcos Santos dalam sebuah kesempatan. Saat dijamu Malut United, Luiz Gustavo diganjar Player of The Match, sedang Marcos justru kena kartu kuning. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Laga pekan ke-14 Super League, saat Arema FC dijamu Malut United, di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, menjadi pertandingan yang spesial bagi Luiz Gustavo.
Di laga yang berkesudahan dengan skor imbang 1-1, tidak saja mengantarkan Arema FC memperpanjang rekor tak pernah kalah di partai tandang. Tetapi pemain 31 tahun tersebut, juga dinobatkan sebagai Player of The Match.
Pantas jika pemain yang pernah memperkuat Timnas Brasil di kelompok usia ini, mendapatkan dua kali gelar Player of The Match. Penampilannya di lini belakang Arema, sangat impresif dan sulit di tembus lawan.
Di laga tersebut, Luiz Gustavo duet dengan Odivan Koerich. Dari 90 menit penampilannya, Luiz Gustavo melakukan dua kali block, 4 clearance, 8 intercept, 3 kali tackle dan dua kali ball recovery.
Karenanya, di luar satu gol cepat yang dibuat Tyronne del Pino di menit kedua, Gustavo berdiri kokoh mengamankan pertahanan Skuad Singo Edan.
Bahkan, pemilik jersey bernomor punggung 26 itu mencatatkan atribusi bertahan yang sempurna. Lima atribusi wajib bagi seorang pemain belakang dilakoninya sepanjang 2×45 menit.
Mulai dari atribusi block, clearance, intercept, tackle dan ball recovery disabetnya untuk meredam serangan demi serangan lawan. Menariknya, di tengah tensi pertandingan yang cukup tinggi, Gustavo hanya melakukan satu kali pelanggaran.
“Pertama-tama, saya ingin berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk datang ke sini.”
“Pertandingan ini sangat sulit. Kami tahu akan sulit untuk kembali dan bermain di sini. Kami adalah para pemain berpengalaman. Kami mampu menahan tekanan,” kata Gustavo.
Sayangnya, ketika Luiz Gustavo cukup berbahagia dengan mendapatkan gelar Player of The Match, justru pelatih Arema FC, Marcos Santos harus terus melakukan interospeksi diri.
Pelatih asal Brasil itu, kembali mendapatkan kartu kuning, saat lawan Malut United di pekan ke-14 Super League 2025/2026, Sabtu (29/11/2025).
Meski demikian, pelatih berlisensi Pro Conmebol ini, memilih untuk introspeksi diri ketimbang menyalahkan wasit Thoriq Alkatiri.
Momen kartu kuning itu terjadi di menit ke-81. Wasit Thoriq Alkatiri menilainya melanggar batas garis area teknis di tepi lapangan saat melakukan protes. Selain karena protesnya yang dianggap cukup keras.
Karena dalam rekaman pertandingan, Marcos Santos terlibat adu mulut dengan Thoriq. Bahkan beberapa kali diingatkan, Marcos tetap beradu argumen. Hingga Thoriq pun harus mengeluarkan kartu kuning.
Pelatih 46 tahun itu mengaku bersalah, meski tak sepenuhnya pelanggaran itu disebabkan oleh kesalahannya. Menurutnya, ada andil wasit keempat, Gedion Dapaherang, yang turut memengaruhi keputusan sang wasit utama.
“Karena tensi pertandingan, saya sempat meninggalkan area teknis. Sebenarnya bukan wasit utama penyebabnya. Justru wasit keempat yang tidak membiarkan saya bekerja di sana.”
“Sangat sulit. Dia tidak membiarkan saya bekerja dengan leluasa sepanjang waktu. Bahkan tidak mengizinkan saya memanggil penerjemah untuk berbicara dengan pemain,” kata Marcos Santos.
Pelatih yang baru musim pertama ini merasakan tingginya tensi Super League, harus menerima
keputusan kartu kuning untuknya, tanpa banyak protes lagi. Marcos Santos berharap tak bernasib sial lagi ke depannya.
Itu menjadi kartu kedua bagi offisial Arema musim ini. Sebelumnya, Asisten Pelatih Andre Caldas Costa pernah menerima kartu di laga kandang melawan Persija Jakarta.
“Tapi tidak apa-apa. Ini bagian dari sepak bola. Saya terima. Saya salah meninggalkan area teknis. Itu memang bukan salah siapa pun selain saya,” pungkasnya. (*/Ra Indrata)




