MALANG POST – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menunjukkan komitmennya dalam mendukung tata kelola maritim nasional dengan memimpin penyusunan Road Map Ocean Monitoring System (OMS).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, dan dibahas secara intensif dalam Focus Group Discussion (FGD) Laporan Awal di Ibis Styles Malang, 27 November 2025.
FGD dihadiri oleh tim pakar multidisiplin dari ITN Malang, termasuk perwakilan dari Lembaga Pengembangan Kerja Sama dan Usaha (LPKU), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), serta para dosen dari Program Studi PWK, Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Teknik Geodesi.
Dari pihak KKP hadir Ketua Tim Kerja Supporting Investasi Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Arif Edy Handoyono, beserta jajaran.
Kepala LPKU ITN Malang, Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., menegaskan bahwa penunjukan ITN Malang sebagai mitra penyusun Road Map OMS merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab strategis.
“Kegiatan ini sangat penting bagi Indonesia, sebuah negara maritim yang mendesak untuk memiliki sistem pemantauan laut yang real-time, terintegrasi, dan berbasis teknologi mutakhir,” jelas Ardi dalam sambutannya.

Ia merincikan, sistem ini akan mengadopsi teknologi terdepan seperti sensor multi-platform, remote sensing, AI/ML analytics, hingga konsep Digital Twin. Kolaborasi ini merupakan wujud kontribusi akademik ITN Malang dalam: pengembangan arsitektur teknis dan peningkatan interoperabilitas data; integrasi kebijakan Satu Peta untuk data kelautan; dan penyusunan tahapan pengembangan menuju simulasi dan smart ocean governance.
“Kami percaya road map ini adalah fondasi penting menuju pengelolaan ruang laut yang lebih transparan, adaptif, dan evidence-based, yang pada akhirnya akan memperkuat perlindungan kawasan konservasi dan mendukung layanan publik kelautan,” imbuhnya.
Arif Edy Handoyono dari KKP menggarisbawahi urgensi OMS sebagai instrumen pemantauan laut berbasis data dan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan.
“OMS dirancang sebagai sistem informasi spasial temporal untuk mendukung perencanaan ruang laut, pengendalian aktivitas ekonomi kelautan, serta pemantauan ekosistem. Maksud utama kegiatan ini adalah menyusun strategi induk pengembangan OMS yang komprehensif dari aspek teknis, operasional, hingga kelembagaan,” terang Arif.
Ia berharap kolaborasi antara KKP dan ITN Malang ini akan menghasilkan dokumen Peta Jalan Pengembangan Sistem Pemantauan Laut yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih besar di masa depan.
Ir. Gatot Subroto, ST., M.Ars., tim ahli ITN Malang memaparkan hasil kajian komprehensif, termasuk benchmarking dari sistem OMS global seperti Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
Implementasi OMS di Indonesia direncanakan dalam rentang 2026–2030 yang terbagi menjadi lima tahap utama:
1) Pilot Monitoring: Optimalisasi data awal dan standardisasi basis data.
2) Data Sharing dan Multi-Platform: Memastikan OMS dapat diakses oleh seluruh direktorat KKP dan lintas lembaga di Indonesia.
3) Analitik Dasar: Perhitungan analisis tren ruang laut dan pemodelan gelombang/arus.
4) Digital Twin: Menciptakan replika digital dunia nyata laut untuk simulasi sebelum implementasi kebijakan di lapangan.
5) Simulasi Optimisasi Sistem: Menghasilkan sistem pengambilan keputusan yang cerdas untuk memantau kawasan konservasi, perikanan, hingga data lingkungan seperti suhu dan klorofil.
Sebagai tindak lanjut, ITN Malang bersama PT Informasi Geo Sistem (IGS) dan KKP akan melakukan benchmarking ke Korea Selatan untuk mengadopsi praktik terbaik yang relevan diterapkan di Indonesia.
“Kami berharap ITN yang diberikan kepercayaan ini tetap bisa mengawal kebijakan penataan ruang laut secara nasional dan mengawal implementasi road map yang kita bangun sehingga hasilnya lebih baik lagi,” tutup Gatot Subroto. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




