MALANG POST – Menjadi seorang pemain terbaik pada satu laga, tidak hanya monopoli striker atau penjaga gawang. Tetapi seorang defender, juga bisa dinobatkan sebagai player of the match. Padahal di laga tersebut, ada dua pemain yang mencetak gol.
Itulah yang diterima Luiz Gustavo Tavares Conde. Bek tengah Arema FC, saat laga pekan ke-13 Super League musim 2025/2026, justru terpilih menjadi player of the match.
Padahal dalam laga Persebaya versus Arema FC, yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya itu, Luiz Gustavo posisinya adalah pemain belakang, yang banyak mendapatkan ‘peluang’ untuk melakukan pelanggaran.
Nyatanya, dari starting eleven yang diturunkan pelatih Marcos Santos, hanya Luiz Gustavo yang bermain penuh dan tidak mendapat satu pun kartu.
Padahal di laga yang dipimpin Wasit Rio Permana Putra, ada sembilan kartu kuning dan satu kartu merah yang dikeluarkan untuk pemain Arema.
Tetapi melihat penampilan pemain 31 tahun itu, tidak berlebihan jika predikat itu disadangnya. Nyaris di sepanjang laga, tak ada pemain Persebaya yang mampu melewati hadangan Luiz Gustavo.
Apalagi saat Arema harus bermain dengan 10 orang, sejak menit ke-65, setelah Matheus Blade mengantongi dua kartu kuning, pemain berpostur 182 cm itu, menunjukkan kelasnya sebagai sang jenderal pertahanan.
Tak heran jika pemain yang diboyong dari Ituano FC, klub Seri C Liga Brasil, dengan skema bebas transfer, menjadi satu-satunya pemain yang selalu tampil penuh dalam 12 laga hingga pekan ke-13.
Hingga laga dijamu Persebaya, Sabtu (22/11/2025) kemarin, Luiz Gustavo sudah bermain sepanjang 1.080 menit. Baru mendapatkan dua kartu kuning dan bisa memberikan satu asis.
Mantan pemain Timnas U-20 Brazil ini, menjadi satu-satunya pemain yang tak tergantikan. Bahkan Luiz Gustavo juga menjadi wakil kapten Arema.
“Saya memang bertanggung jawab di pertahanan. Tetapi pemain-pemain yang lain, juga membantu pertahanan.”
“Saya harus terus lebih banyak berlatih dan terus bermain. Soal saya mendapatkan kartu atau saya bisa membantu mencetak gol, saya selalu bertanggung jawab,” katanya setelah dinobatkan sebagai player of the match di kandang lawan, Sabtu malam.
Karena faktor itulah, pemain kelahiran Valentim Centil, Brasil, selalu mencoba berbenah selepas pertandingan. Bahkan sesaat setelah laga melawan Persebaya, dia sudah langsung berpikir untuk pertandingan selanjutnya.
“Kami tidak akan memutarbalikkan apapun. Kami bekerja keras untuk setiap pertandingan.”
“Ketika kami bermain di Surabaya, jelas banyak faktor yang mempengaruhi. Tetapi intinya jangan sampai ada yang berperilaku buruk, hingga sampai ada yang meninggal seperti Tragedi Kanjuruhan.”
“Mereka semua yang ada di stadion, ingin melihat perjuangan setiap pemain. Serta pengorbanan pemain untuk bisa menyenangkan suporter,” tandasnya.
Soal pertandingan yang disaksikan lebih dari 26 ribu penonton itu sendiri, Luiz Gustavo mengaku sedikit berada di bawah tekanan. Terlebih-lebih setelah Arema harus bermain dengan 10 pemain dan terus mendapat pressing hampir sepanjang 30 menit usia akhir pertandingan.
“Seperti yang anda lihat. Itu menjadi sedikit agak rumit, dengan orang-orang mereka mengendalikan permainan.”
“Untung setelah gol, kami melewati sedikit lebih baik. Tetapi hampir tidak ada kata menyerah dari kami.”
“Hari ini, kami bisa keluar dari lapangan dengan kepala tegak. Padahal mereka pikir kami akan kalah,” sebutnya.
Soal kartu merah dan banyaknya kartu yang diterima pemain Arema, pemain yang mulai bergabung dengan Arema sejak 4 Agustus 2025 lalu, menilai, pelatih telah memberikan semua pemain bagian masing-masing.
Mulai dari menyerang, bermain di tengah sampai pertahanan. Bahkan semua pemain harus bisa membantu pertahanan.
“Untungnya kami bisa mencuri poin dan tidak sampai kalah lawan Persebaya. Itu saja. Karena setiap pemain, pasti punya tanggung jawab masing-masing,” tegasnya. (Ra Indrata)




