
MALANG POST – Halaman Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Batu berubah jadi panggung budaya. Lantunan tembang Jawa yang merdu terdengar dari panggung sederhana. Satu persatu peserta duduk bersila di panggung dengan wajah serius, melagukan bait demi bait tembang macapat dengan cengkok yang fasih.
Penampilannya membuat banyak orang terperangah. Itulah suasana Macapat Idol 5, lomba tembang tradisi Jawa yang digelar Kejari Batu berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.
Event tahunan ini digelar sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI dan Hari Lahir Kejaksaan RI ke-80. Sebanyak 58 pelajar SD/MI se-Kota Batu ambil bagian.
Dengan penuh percaya diri, mereka tampil satu per satu, berusaha memikat dewan juri lewat suara, penguasaan pakem macapat, hingga keserasian busana.
“Penilaiannya mencakup laras, guru lagu, guru gatra, guru wilangan, kualitas vokal, harmoni, sampai kostum. Jadi tidak hanya sekadar bisa menyanyi, tapi juga harus paham pakem macapat,” jelas Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, kemarin.
Para peserta bebas memilih jenis tembang. Ada yang melagukan mijil, kinanti, ada pula yang memilih pucung. Hadiah yang disiapkan pun cukup menarik Rp1,5 juta untuk juara I, Rp1 juta untuk juara II dan Rp750 ribu untuk juara III.

LESTARIKAN BUDAYA: Pemkot Batu bersama Kejaksaan Negeri Batu menggelar Mocopat Idol 5 sebagai salah satu wujud pelestarian budaya Jawa. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurut Onny, Macapat Idol sejak awal digagas sebagai upaya regenerasi agar tradisi Jawa tidak ditinggalkan generasi muda. Karena itu, pesertanya memang fokus pada anak-anak usia sekolah dasar.
“Tahun depan rencananya kami buka juga untuk tingkat SMP. Harapannya semakin banyak yang ikut, sekaligus durasi penyelenggaraannya lebih panjang,” ujarnya.
Onny menambahkan, Disparta juga melibatkan Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Jawa. Para guru diberi pelatihan khusus agar bisa menularkan ilmu tembang macapat ke murid-muridnya.
“Antusias guru luar biasa. Jadi mereka tidak hanya mendampingi, tapi juga mengarahkan siswa dengan baik,” tambahnya.
Wali Kota Batu, Nurochman, yang hadir langsung menyaksikan lomba menyebut Macapat Idol sebagai ajang yang layak dibanggakan. Menurutnya, tembang macapat bukan sekadar seni suara, melainkan juga sarat filosofi kehidupan.
“Ini bukan sekadar lomba. Ini adalah cara kita bersama-sama melestarikan budaya Jawa yang luhur. Pemkot Batu tentu akan terus mendukung agar ajang seperti ini bisa berlangsung setiap tahun,” kata Cak Nur.
Kajari Batu, Andy Sasongko menambahkan, bahwa kolaborasi Kejari dengan Pemkot Batu dalam Macapat Idol adalah bentuk nyata menjaga kearifan lokal.
“Generasi muda harus mengenal dan mencintai budaya sendiri. Setiap bait macapat itu berisi nilai-nilai luhur kehidupan. Kalau tidak dikenalkan sejak dini, tradisi ini bisa hilang ditelan zaman,” tutur Andy.
Ia menyampaikan, Kota Batu yang dikenal sebagai kota wisata tak hanya mengandalkan alam dan wisata buatan, tetapi juga harus menonjolkan wisata budaya.
“Masyarakat Kota Batu ini guyup rukun, punya tradisi luhur. Macapat bagian dari itu dan harus kita rawat bersama,” tutupnya. (Ananto Wibowo)