
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Husnul Muarif, menegaskan tak ingin ada kejadian luar biasa (KLB) penyakit Campak seperti yang terjadi di Sumenep. Karena itu, Dinkes Kota Malang berusaha keras untuk mencegahnya lewat imunisasi Campak.
Terutama bagi mereka yang imunisasi Campaknya masih bolong-bolong. “Untuk penderita Campak di Kota Malang hingga kini kami belum mendapatkan informasi terbaru. Yang Sudah ada itu kita adalah penyakit Difteri dan Fertusis di awal-awal tahun ini,” papar Husnul.
Untuk ke depan, lanjut Husnul, pihaknya menggeber imunisasi Kejar. Yaitu, imunisasi Campak bagi anak usia 9 bulan. “Nah, anak-anak usia 9 bulan yang belum dapat imunisasi Campak, inilah yang kita sasar untuk imunisasi Kejar,” jelas Husnul.
Menurut Husnul, imunisasi Kejar itu sudah dimulai sejak awal Agustus 2025. Selain imunisasi Campak bagi anak usia 9 bulan, vaksinasi Kejar ini juga untuk mereka yang masih bolong-bolong imunisasinya. Mereka akan ditambal dengan imunisasi sesuai dengan usia.
Ditanya kapan di Kota Malang terakhir ada Campak, menurut Husnul mungkin tahun 2023. Yaitu di wilayah Kedungkandang. Kalau dilihat riwayatnya penderita, satu tidak rutin ke posyandu, kedua vaksinnya masih bolong.
Husnul belum mengetahui berapa banyak kebutuhan vaksin untuk warga yang masih bolong-bolong imunisasinya. Tetapi, saat ini tiap posyandu sudah memetakan mereka yang vaksinasinya masih bolong-bolong.
“Di masing-masing posyandu itu kan ada my home my village, yaitu program atau alat pelacakan untuk memastikan anak-anak mendapat imunisasi lengkap dan tepat waktu. My home my village ini kita lihat, yang menjadi sasaran itu yang masih kosong kita kunjungi ke rumah,” ungkapnya.
Husnul juga menyampaikan bahwa gerakan imunisasi Kejar ini dilakukan merata di 5 kecamatan. “Semua posyandu di 5 kecamatan. Yang jelas tidak ingin Kota Malang ada Campak seperti di Sumenep,” pungkas Husnul Muarif.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 17 warga Sumenep dilaporkan meninggal dunia karena terserang virus Campak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, 16 korban terkonfirmasi tidak pernah menjalani imunisasi, sedangkan satu lainnya tidak lengkap imunisasi.
Saat ini pemerintah setempat telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) bagi wilayah Sumenep.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, langsung menggelar rapat teknis untuk menangani KLB Campak di Kantor Bupati Sumenep pada Sabtu (23/8/2025).(Eka Nurcahyo)