
HOY: Pelaksanaan happiee outdoor yudisium (HOY), yang digelar di halaman kampus C Universitas IBU, pada Sabtu (30/8/2025) malam. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Cara Universitas IBU Gelar Heppiee Outdoor Yudisium
MALANG POST – Bukan Universitas Insan Budi Utomo (IBU) di Kota Malang, jika tidak memiliki momen yang out the box. Selalu selangkah di depan, dibandingkan kampus-kampus yang lain.
Kali ini kampus yang dulu bernama IKIP Budi Utomo tersebut, menggelar yudisium yang sangat berbeda. Penuh warna. Penuh kebahagiaan. Tanpa harus meninggalkan esensi dari yudisium itu sendiri.
Pada Sabtu (30/8/2025) malam kemarin, 1.200 mahasiswa Universitas IBU, mengikuti Happy Outdoor Yudisium (HOY). Sebuah momen pengumuman kelulusan, yang digelar secara outdoor dengan penuh nuasan happiee.
Sekitar 1.200 mahasiswa itu, sambil menunggu pengumuman yang disampaikan para dekan dari tiga fakultas dan satu program pascasarjana, dihibur oleh Tony Yudex and Friend. Yang tidak saja menyuguhkan lagu-lagu pop masa kini, tetapi juga ada musik ambyar-nya.
Sebuah panggung besar, lengkap dengan layar videotron berhiaskan nuansa retro, menjadi venue untuk memancarkan keceriaan dan kebahagiaan lantaran sudah lulus dari universitas. Mahasiswa dan civitas akademika lainnya pun, ikut berjoget bersama-sama. Mengikuti irama musik ambyar yang disajikan.
Tetapi saat pengumuman kelulusan disampaikan dekan dari Fakultas Teknik, Fakultas Eksakta dan Keolahragaan, Fakultas Sosial dan Humaniora. Ditambah dari Program Magister Pendidikan Olahraga, mereka duduk di atas karpet biru. Berjajar sesuai dengan program studi masing-masing.
Sontak ketika nama-nama mereka muncul di layar videotron, para mahasiswa mengacungkan dan mengibar-ngibarkan amplop warna coklat, yang berisi surat keterangan mereka telah lulus.
“Alhamdulillah, sekitar 1.200 mahasiswa yang mengikuti yudisium hari ini (Sabtu, 30/8/2025), lulus 100 persen. Mereka berhak mengikuti wisuda pada September nanti,” ujar Rektor Universitas IBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., di Kampus C Universitas IBU, Sabtu (30/8/2025) malam.

HAPPIE: Rektor Universitas IBU, Dr. Nurcholis Sunuyeko, M.Si., saat menyanyi tembang ambyar, untuk memberikan kebahagiaan kepada mahasiswanya seusai dinyatakan lulus dalam yudisium. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Peserta yudisium, jelas Sam Rektor -panggilan akrab Rektur Universitas IBU- adalah para mahasiswa yang telah menempuh pendidikan paling cepat 3,5 tahun dan paling lambat 5 tahun atau 10 semester.
Regulasi kelulusan di Universitas IBU, Indeks Presitasi Kumulatif (IPK) harus di atas 2,5. Meski lembaga tetap meminta sebisa mungkin IPK-nya mencapai 3.
“Mungkin HOY ini satu-satunya di Indonesia. Karena kita menjalankan yudisium secara outdoor dan malam hari.”
“Lebih daripada itu, karena mereka sudah mengakhiri semua proses perkulian. Maka kita sebagai institusi, harus memberikan mereka kebahagiaan. Nah, kebahagiaan hari ini diberikan dengan tajuk Happy Outdoor Yudisium (HOY),” tandas anggota Dewan Pakar PWI Jawa Timur ini.
Tidak itu saja, Sam Rektor juga menyebut, lantaran sekarang modenya adalah joget-joget. “Maka kalau di sana (gedung DPR) joget, di sini juga joget. Atau kalau mereka joget, kami juga joget,” ujarnya sembari tersenyum.
Semua itu dilakukan, imbuhnya, sebagai wujud ungkapan dari kebahagiaan peserta yudisium, karena telah lulus semua. Sebagai malam yang sangat istimewa bagi mereka, karena ini adalah pendahuluan bagi kegiatan wisuda yang akan dilaksanakan September mendatang.

LULUS: Peserta yudisium Universitas IBU, ketika memperhatikan nama-nama yang lulus pada layar videotron, untuk bisa mengikuti wisuda pada September mendatang. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
“Karena itu pesan saya kepada para mahasiswa, meskipun itu semua sudah lulus, tapi motivasi dan juga fighting spirit untuk belajar, harus terus dilanjutkan.”
“Perubahan semakin cepat dan juga masalah-masalah kemasyarakatan, khususnya masalah bangsa, juga memerlukan pemecahan mereka. Peserta yudisium juga harus ikut berkonstribusi untuk menjadikan negara ini semuanya baik-baik saja,” tegas Pembina PWI Malang Raya ini.
Itulah sebabnya, tambah Sam Rektor, meskipun saat ini diselingi banyak aksi unjuk rasa, pihaknya sebagai Rektor juga ikut peduli, prihatin dan terus memantau suasana.
“Mestinya karena demo atau unjuk rasa itu sebagai hak masyarakat, yang memang memiliki hak konstitusi untuk menyampaikan pendapat, jangan sampai ada korban,” tegasnya.
Di sisi yang lain, Sam Rektor juga menyampaikan terima kasih kepada para mahasiswa Indonesia Timur, yang menjadi bagian dari 1.200 peserta yudisium, lantaran mereka bisa berkontribusi untuk daerah asal. Sekitar 30 persen dari peserta yudisium, berasal dari Indonesia Timur.
“Dengan mereka ikut yudisium ini, berarti kita juga bisa menyumbangkan alumni, agar bisa berkontribusi pada Indonesia Timur. Mudah-mudahan mereka bisa mengembangkan pembangunan di Indonesia Timur,” kata Sam Rektor.
Apalagi sebagai seorang mahasiswa, ujarnya, seyogianya bekerja itu jangan setelah selesai. Tapi pada waktu proses jadi mahasiswa, mereka juga sudah mulai kerja. Meskipun pekerjaan itu memang tidak banyak terkait juga dengan bidang ilmunya.
“Namun namanya pekerjaan itu, harus disesuaikan dengan kondisi mereka. Karena mungkin mereka juga memerlukan biaya-biaya yang lain, termasuk banyak juga yang sudah bekerja, sehingga mereka bisa membiayai kuliah,” demikian tandas penerima PWI Jatim Award 2025, sebagai tokoh pemerata akses pendidikan ini. (Ra Indrata)