
SEMRAWUT: Salah seorang petugat saat memasang kabel di sebuah tiang instalasi yang sudah nampak semrawut. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Jika melintas di sejumlah jalan utama Kota Batu, mata wisatawan kerap disuguhi pemandangan yang bikin geleng-geleng kepala. Bukan soal macet atau jalan berlubang, melainkan tumpukan kabel listrik dan internet yang semrawut melintang di atas kepala.
Pemandangan ini jelas kontras dengan citra Kota Batu sebagai Kota Wisata. Tiang-tiang listrik tampak dijejali kabel hitam yang kusut, saling lilit, bahkan ada yang menjuntai rendah. Selain merusak estetika kota, kondisi itu juga rawan membahayakan pengguna jalan.
Sejumlah titik kabel semrawut paling banyak dijumpai di ruas protokol. Mulai Jalan Sultan Agung, kawasan ruko Alun-Alun Kota Wisata Batu, perempatan Klenteng Eng An Kiong atau ruas Jalan Gajah Mada, hingga sepanjang Jalan Ahmad Yani. Di titik-titik itu, kabel menumpuk tak karuan, seolah-olah tak bertuan.
Wali Kota Batu, Nurochman, tidak menampik kondisi tersebut. Menurutnya, selain mengganggu pandangan wisatawan, kabel semrawut juga menurunkan citra keindahan tata kota. Karena itu, Pemkot Batu menyiapkan langkah penataan. Salah satunya dengan skema ducting, yakni menanam kabel di bawah tanah.
“Untuk saat ini, kami akan komunikasikan lebih dulu dengan PT PLN (Persero) dan Telkom Malang. Penerapannya nanti berdasarkan kawasan yang dibuatkan master plan,” kata Cak Nur, Minggu (31/8/2025).
Ia menyebut, kawasan Alun-Alun Kota Batu dan ruas-ruas jalan protokol yang jadi etalase wisata akan menjadi prioritas penataan. Bahkan, Cak Nur menduga banyak kabel di atas yang bukan hanya milik PLN atau Telkom.
“Ada kemungkinan provider nakal yang tidak punya izin, numpang kabel di jalur PLN atau Telkom. Ini yang akan kita telusuri,” tegasnya.
Menurutnya, langkah penataan akan dimulai tahun 2026. Meski begitu, upaya perapian tetap akan digarap bertahap agar wajah kota wisata tetap menarik.
“Kita tidak ingin estetika kota terganggu. Kota Batu ini kota wisata, jangan sampai tamu yang datang disuguhi kabel kusut di mana-mana,” tambahnya.
Manager PLN UP3 Malang, Agung Wibowo mengatakan, pihaknya memang belum berkomunikasi intens dengan Pemkot Batu terkait rencana ducting. Namun ia memastikan PLN siap mendukung.
“Kalau PLN selama ini menggunakan kabel udara, itu memang standar kami. Tapi kalau ada kebijakan untuk masuk ducting, tentu memungkinkan. Detail jalurnya nanti akan kita koordinasikan dengan Pemkot Batu,” jelasnya.
Soal pembiayaan, Agung menyebut kemungkinan akan menjadi beban pelanggan atau instansi pemilik kabel. “PLN siap support. Tinggal nanti teknis pengerjaannya mengikuti arahan pemerintah daerah,”imbuhnya.
Sejauh ini, skema ducting kabel bawah tanah sudah diterapkan di beberapa kota besar di Indonesia. Meski menelan biaya tak sedikit, sistem ini terbukti mampu membuat wajah kota jauh lebih rapi dan modern.
Warga pun berharap rencana ini tidak hanya sekadar wacana. “Kalau bisa cepat ditata, bagus. Karena kalau lihat kabel di Alun-Alun itu ruwet banget, kayak mie instan. Padahal Alun-Alun jadi spot favorit wisatawan,” ujar Arifin warga Jalan Ahmad Yani, Kota Batu.
Kini, bola panas ada di tangan Pemkot Batu bersama PLN dan Telkom. Jika penataan benar-benar berjalan, wajah Kota Batu bisa lebih segar, rapi dan tentu saja aman. (Ananto Wibowo)