
MALANG POST – SD Negeri 5 Kalirejo Lawang, menjadi tuan rumah kegiatan visitasi Sakura Science Team dari Universitas Kitakyushu Jepang, Selasa (26/8/2025) kemarin.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Dr. Langgeng Supriyanto, S.Pd, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, PMI Kabupaten Malang, BPBD, Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kecamatan Lawang, serta para kepala sekolah yang tergabung dalam K3S Lawang.
Dalam sambutannya, Kabid SD Dr. Langgeng Supriyanto menekankan pentingnya edukasi mitigasi bencana sejak dini. “Indonesia adalah negara yang rawan bencana. Mitigasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua pihak. Dengan pengetahuan yang benar, kita bisa mengurangi risiko dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. Sekolah harus menjadi tempat aman, tangguh, dan siap menghadapi bencana,” tegasnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan Dr. Heni Masrurah, M.Sc, Kepala Pusat Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Negeri Malang, yang menjelaskan bahwa wilayah Malang memiliki potensi ancaman mulai dari tsunami, longsor, gempa bumi, hingga banjir. Menurutnya, pendidikan mitigasi di sekolah dasar merupakan langkah strategis untuk menekan risiko bencana.

Ketua Tim Sakura Science Exchange Program, Prof. Murae dari Universitas Kitakyushu, menambahkan bahwa baik Jepang maupun Indonesia sama-sama rawan bencana. “Pendidikan mitigasi bencana sangat penting dan harus melibatkan banyak pihak, mulai dari sekolah, pemerintah, hingga masyarakat. Dengan kurikulum lokal, anak-anak bisa belajar mengenali potensi bahaya dan cara menyelamatkan diri,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ditampilkan pula video pembelajaran mitigasi bencana hasil program pertukaran di Jepang. Anak-anak SDN 5 Kalirejo mempraktikkan metode Machi Aruki (penjelajahan lingkungan untuk membuat peta bahaya) dan Kamishibai (bercerita dengan media gambar). Melalui kegiatan ini, siswa dilatih mengenali lokasi aman dan berbahaya, membangun komunikasi dengan warga, Percaya Diri, serta mengembangkan sikap peduli lingkungan.
Kepala SDN 5 Kalirejo, Nining Sulistyani P, menyampaikan rasa bangga sekolahnya menjadi bagian dari program internasional ini. “Anak-anak belajar simulasi gempa, evakuasi darurat, hingga bercerita melalui kamishibai. Mereka jadi lebih peka, percaya diri, dan mampu memetakan risiko di lingkungannya. Kami akan memasukkan materi mitigasi bencana sebagai program kokurikuler berbasis kecakapan hidup,” tuturnya.
Visitasi ditutup dengan presentasi pembelajaran mitigasi bencana yang disaksikan langsung oleh Sakura Science Team. Tim berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat dibagikan kembali kepada teman sebaya, sehingga tumbuh budaya sadar bencana di sekolah dan masyarakat. (*/Ra Indrata)