
MALANG POST – Anak-anak bermain game online, tanpa pengawasan atau pendampingan orang tua, berisiko mengalami dampak psikis. Seperti kecanduan, agresivitas hingga gangguan yang butuh terapi psikologis.
Hal itu disampaikan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Retno Firdiyanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (28/8/2025).
Menurut Retno, masalah bukan terletak pada platform game seperti Roblox. Tapi pada minimnya pendampingan dari orang tua.
“Anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir matang. Sehingga bimbingan orang dewasa sangat penting, agar penggunaan teknologi tidak berdampak negatif,” katanya.
Orang tua, Retno menambahkan, juga jangan terlalu fokus pada potensi bahaya. Tapi menantang diri agar mau belajar teknologi.
Di beberapa game, justru bisa mengasah kemampuan anak dalam problem solving selama penggunaan didampingi dengan tepat.
Sementara itu dari sisi pemerintah daerah, Sandiman Terampil dari Diskominfo Kota Malang, Edwin Ardiansyah mengatakan, pihaknya fokus pada upaya edukasi dan pendampingan literasi digital. Sebagai langkah utama melindungi anak-anak dari risiko negatif game online.
Diskominfo Kota Malang, katanya, rutin menggelar pelatihan penggunaan platform digital yang aman bagi anak dan melakukan sosialisasi langsung di sekolah-sekolah.
“Penting kolaborasi antara pemerintah, sekolah dan keluarga, dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan sehat bagi anak-anak.”
“Sehingga teknologi bisa dimanfaatkan secara positif, tanpa harus dikhawatirkan berlebihan,” ujarnya.
Sedangkan dari kacamata Co-Founder Letsplay Indonesia, Arif Bawono Surya, pelarangan game online seperti Roblox, bukan solusi tepat dalam menghadapi kekhawatiran masyarakat.
Pihaknya menekankan, Roblox dan platform game lainnya, pada dasarnya itu merupakan ruang digital yang sama seperti media sosial.
“Rencana memblokir platform, harus didasarkan pada data dan riset yang jelas. Bukan semata opini atau kekhawatiran sepihak,” sebutnya.
Dia mencontohkan, potensi bahaya ada di seluruh platform digital, sehingga fokus perlindungan harus pada pengawasan bukan pada pelarangan.
“Platform-platform besar sebenarnya sudah menyediakan fitur parental control dan filter untuk memastikan keamanan anak-anak saat bermain. Maka penting bagi orang tua untuk memahami teknologi,” tandasnya. (Faricha Umami/Ra Indrata)