
MALANG POST – Kota Batu kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional. Kali ini pata pengusaha muslim dari berbagai daerah di tanah air berkumpul dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) ke-16.
Forum yang digelar sejak 2009 ini bukan sekadar ajang pertemuan, melainkan wadah penguatan karakter, sinergi dan komitmen membangun ekonomi berbasis harmoni.
Silatnas dibuka langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, bersama Presiden IIBF Heppy Trenggono, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Iwan, serta sejumlah pemangku kepentingan. Tema yang diangkat tahun ini adalah ‘Merajut Harmoni Menguatkan Sinergi’.
Presiden IIBF, Heppy Trenggono menegaskan, bahwa sejak berdiri tahun 2009 lalu, IIBF membawa misi besar membangun karakter pengusaha Indonesia yang tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada pembangunan ekonomi masyarakat.
“Ekonomi bangsa ini akan kuat kalau sektor swastanya tumbuh. Tapi pertumbuhan itu tidak akan pernah terjadi kalau masyarakatnya masih lebih suka membeli produk asing. Karena itu, gerakan Bela-Beli Indonesia harus kita kuatkan,” tegasnya, Kamis (28/8/2025).
Heppy mencontohkan, sejak 2011 IIBF meluncurkan Gerakan Beli Indonesia yang hingga kini sudah bersinergi dengan puluhan kepala daerah, gubernur, hingga menteri. Tujuannya sederhana, agar uang masyarakat tidak lari keluar negeri hanya karena terlalu bergantung pada produk impor.
“Kalau kita beli sabun, air mineral, atau kebutuhan harian lainnya tapi semua masih merek asing, maka yang tumbuh adalah ekonomi negara lain. Bagaimana kita mau maju kalau pengusaha lokal tidak didukung,” ujarnya.
Lebih jauh, Heppy juga menyoroti rendahnya tingkat kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari membanjirnya produk asing di pasar Indonesia.
“Coba lihat handphone yang kita pakai, hampir tidak ada yang buatan Indonesia. Mobil juga begitu. Artinya, pembelian produk lokal kita masih sangat rendah,” ujarnya.

TEKAN TOMBOL: Wali Kota Batu Nurochman, bersama Presiden IIBF Heppy Trenggono, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Iwan, serta stakeholder terkait saat menekan tombol sirine tanda dimulainya Silatnas IIBF ke 16 di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Karena itu, kata Heppy, kesadaran membeli produk lokal harus ditumbuhkan bersama-sama. Tidak cukup hanya pemerintah yang bergerak, atau pengusaha saja.
“Harus ada sinergi. Dari pemangku kebijakan sampai masyarakat, semua harus terlibat. Karena membangun ekonomi bangsa tidak bisa jalan sendirian,” tegasnya.
Ketua IIBF Jatim, Dicky rendah menambahkan, di Jawa Timur ada lebih dari 1.000 anggota IIBF. Di Malang Raya sekitar 500 orang dan secara nasional mencapai 200 ribuan. Ia menegaskan, harmoni yang diusung dalam Silatnas harus diwujudkan dalam bentuk nyata, saling menguatkan antar sektor, antar komunitas, hingga antar organisasi.
“Intinya kami ingin membiasakan masyarakat membeli produk lokal. Kalau ini konsisten, produk lokal bisa lebih kompetitif, lebih kuat dan mampu bersaing,” katanya.
Kepala Disperindag Jatim, Iwan menyebut, IIBF adalah mitra strategis dalam memperkuat ekonomi. Jatim, kini menjadi lumbung perdagangan antar pulau. Bahkan tercatat 20 provinsi di kawasan timur Indonesia menggantungkan pasokan dari Jatim.
“Struktur manufaktur Jatim sudah 31 persen, ini sudah standar negara maju. Ekspor-impor juga terus kita dorong, baik antar provinsi maupun internasional,” ujarnya.
Iwan menambahkan, pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan II tumbuh 5,2 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pertumbuhan itu ditopang sektor manufaktur, perdagangan dan pertanian.
“Bersama IIBF kita ingin menyiapkan lapangan kerja baru, menjaga distribusi barang dan jasa, serta menguatkan daya saing produk lokal,” tegasnya.
Sementara itu, Wali Kota Nurochman berharap momentum Silatnas memberi dampak nyata bagi pelaku UMKM Kota Batu. Dengan hadirnya ribuan pengusaha muslim dari seluruh Indonesia, ia optimistis produk UMKM dan pertanian lokal bisa menembus pasar lebih luas.
“Kami ingin mengenalkan produk-produk UMKM kita. Harapannya, anggota IIBF bisa menjadi pembeli sekaligus mendistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia,” kata Cak Nur, sapaan akrabnya.
Ia menilai, kehadiran IIBF bukan hanya soal silaturahmi, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi Kota Batu. “Momen ini kami manfaatkan untuk memasarkan produk pertanian hingga UMKM. Pasar terbuka lebar karena pengusahanya datang dari berbagai daerah,” tutupnya. (Ananto Wibowo)