
LIHAT PRODUK: Wali Kota Batu, Nurochman saat melihat produk UMKM Kota Batu, saat ini pihaknya tengah merancang pembangunan Mal UMKM Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Pemkot Batu mulai mematangkan rencana strategis untuk mendorong geliat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah pendirian Mal UMKM.
Menariknya, kawasan sekitar Alun-alun Kota Batu kini menjadi salah satu opsi kuat yang dipertimbangkan sebagai lokasi pendirian pusat promosi sekaligus pemasaran produk lokal tersebut.
Wali Kota Batu, Nurochman, mengungkapkan bahwa pihaknya kini fokus pada tahap perencanaan dan desain Mal UMKM, sebagai pondasi awal proyek ini.
“Progresnya jalan terus. Sekarang masih tahap menyiapkan desainnya. Kalau lokasi, memang ada beberapa opsi yang sedang dikaji. Salah satunya di sekitaran Alun-alun,” ujar Cak Nur sapaannya, Rabu (16/7/2025).
Mal UMKM yang dirancang Pemkot Batu ini diharapkan menjadi etalase utama bagi produk-produk unggulan dari para pelaku usaha kecil dan menengah. Tidak sekadar ruang display, tetapi juga dirancang sebagai pusat edukasi dan promosi yang bisa menarik minat wisatawan serta pembeli potensial.
Cak Nur optimistis, potensi besar UMKM di Kota Batu layak mendapat tempat strategis untuk dipamerkan kepada pasar yang lebih luas.
“Produk UMKM di Kota Batu ini kan banyak yang kualitasnya bagus. Mulai dari kuliner, kerajinan, sampai produk olahan pertanian. Mal UMKM nanti akan jadi tempat kita memamerkan semuanya. Semacam pusat promosi dan pemasaran produkk lokal,” ungkapnya.
Namun demikian, warga Kota Batu tampaknya perlu bersabar. Sebab, pembangunan fisik Mal UMKM tersebut belum akan dimulai dalam waktu dekat. Sepanjang 2025 ini, Pemkot masih akan fokus pada tahap perencanaan dan desain detail.
“Tahun ini masih perencanaan dulu. Pembangunan fisik belum masuk,” tegasnya.
Selain rencana pembangunan Mal UMKM, Pemkot Batu juga mulai melirik potensi lain. Salah satunya dengan memanfaatkan bedak-bedak kosong di Pasar Induk Among Tani. Lokasi ini direncanakan sebagai area alternatif pemasaran produk UMKM.
“Di Pasar Among Tani juga kita coba manfaatkan bedak yang kosong. Itu bisa jadi tempat display dan jualan produk UMKM. Tapi ini beda dengan Mal UMKM. Ini hanya langkah tambahan untuk membantu UMKM kita punya akses pasar,” tambahnya.
Rencana besar pembangunan Mal UMKM ini sejatinya telah tercantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batu 2025–2030. Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) awal Maret lalu, proyek ini dipatok sebagai salah satu prioritas penguatan sektor ekonomi rakyat.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu, Aries Setiawan menjelaskan, bahwa keberadaan Mal UMKM adalah bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat daya tahan ekonomi sektor informal di tengah dinamika perekonomian global.
“Mal UMKM bukan sekadar pusat jualan, tetapi akan kita jadikan simbol kekuatan UMKM Kota Batu. Tempat promosi, edukasi, hingga branding produk. Selain itu, pemerintah tetap mendampingi lewat program fasilitasi akses permodalan, pelatihan kewirausahaan, dan pembinaan berkelanjutan,” terangnya.
Data Diskumperindag menunjukkan geliat UMKM di Kota Batu terus tumbuh pesat. Pada 2023 lalu, sektor ini tumbuh 28 persen. Jumlah unit usaha meningkat dari 5.900 menjadi 7.552 unit hingga pertengahan 2024.
Aries menyebut, mayoritas UMKM di Kota Batu bergerak di sektor makanan dan minuman. Tidak terlepas dari karakteristik Kota Batu sebagai kota wisata, yang terus membutuhkan produk pendukung seperti kuliner, oleh-oleh dan kerajinan.
“Lonjakan jumlah UMKM menunjukkan ekosistem wirausaha di Batu cukup sehat. Tingginya minat masyarakat berwirausaha jadi peluang sekaligus tantangan. Maka pemerintah hadir, memfasilitasi agar usaha kecil kita bisa naik kelas dan bertahan di tengah tantangan zaman,” tutupnya. (Ananto Wibowo)