
MALANG POST – Suasana sekolah-sekolah bakal sedikit berbeda di awal tahun ajaran baru ini. Tak lagi hanya tiga hari, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026 diperpanjang jadi lima hari penuh.
Bukan tanpa alasan. Dinas Pendidikan Provinsi Jatim menginginkan masa transisi dari SMP menuju SMA/SMK/MA tak sekadar formalitas. Ada harapan besar di balik penambahan dua hari tersebut.
“Kami ingin anak-anak lebih maksimal mengenal sekolahnya, mengenal kurikulumnya, hingga aktivitas-aktivitasnya. Baik yang sifatnya akademik maupun non-akademik,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai.
Aries menjelaskan, MPLS bukan sekadar tur keliling sekolah atau dengar ceramah di aula. Selama lima hari, siswa baru akan dikenalkan lebih dalam dengan dunia barunya. Mulai dari bagaimana proses belajar di kelas, apa saja ekstrakurikuler yang bisa diikuti, hingga kesempatan untuk tampil menunjukkan bakat.
Satu hari khusus, bahkan disiapkan sebagai ‘panggung unjuk bakat’. Di hari itu, siswa baru diberi kesempatan tampil, entah bernyanyi, menari, bermain alat musik, hingga menunjukkan kebolehan di bidang olahraga.
“Ini bertujuan agar sejak awal, potensi anak-anak bisa terdeteksi,” tambah Aries.
Bukan hanya soal bakat dan potensi. Lima hari MPLS ini juga akan diisi berbagai edukasi penting yang relevan dengan kehidupan remaja. Mulai dari bahaya narkoba, maraknya judi online (judol), pinjaman online (pinjol), hingga isu bullying. Semua dibahas secara ringan tapi membekas, dalam format interaktif.
Dinas Pendidikan Jatim juga sudah menandatangani komitmen bersama untuk memerangi empat hal tersebut. Aries menyebut, arus informasi yang tak terbendung di era digital membuat perlindungan dini terhadap siswa jadi prioritas.
“Kalau dulu kita bicara bahaya narkoba saja, sekarang harus ditambah judi online, pinjol dan perundungan,” tegasnya.

TINJAU: Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai saat meninjau MPLS di sebuah sekolah guna memastikan kegiatan tersebut berjalan sesuai yang diinginkan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Hal yang tak kalah penting, guru wajib turun langsung. Aries mewanti-wanti, selama MPLS guru tak boleh hanya duduk di ruang guru. Mereka harus ada di tengah siswa, ikut memantau, ikut mendampingi. Ini bagian dari pengawasan agar aksi perundungan yang sering terjadi di awal masuk sekolah bisa dicegah sedini mungkin.
“Kalau masih ada bullying, kami minta ada sanksi. Bentuknya akan disesuaikan dengan tingkatan pelanggaran. Tapi prinsipnya, harus ada efek jera,” tegas Aries.
Tak berhenti di situ. Tahun ini, sejumlah sekolah juga mulai menerapkan Tes Potensi Akademik (TPA) di awal MPLS. Tes ini dipakai sebagai peta awal, untuk memetakan kemampuan dan kecenderungan bidang minat siswa. Harapannya, jalur pengembangan siswa bisa lebih terarah sejak awal.
Sebagai gambaran, dalam kurikulum baru yang mulai diterapkan tahun ini, siswa bisa terkoneksi langsung dengan bidang pilihannya. Apakah mereka lebih tertarik di IPA, IPS, atau bidang kebudayaan. Dengan demikian, MPLS lima hari ini sekaligus jadi masa orientasi kurikulum yang lebih konkret.
Ada juga program ‘7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat’ yang diperkenalkan sepanjang MPLS. Mulai dari kebiasaan disiplin, menjaga kebersihan, hormat pada orang tua dan guru, hingga aktif berkreasi.
Dengan konsep baru ini, Aries berharap MPLS tak lagi dianggap sekadar masa orientasi. Tapi sebagai tahap adaptasi penting bagi siswa baru, sehingga siap menghadapi dunia SMA/SMK/MA yang lebih menantang.
“Targetnya, begitu MPLS selesai, anak-anak sudah bisa mandiri, sudah nyaman dengan lingkungan sekolah dan tahu apa yang ingin mereka capai di sekolah,” pungkasnya. (Ananto Wibowo)