
MALANG POST – HIV/AIDS masih menjadi fenomena sosial yang penting untuk menjadi perhatian bersama. Selain mencegah penularan, Orang Dengan HIV/AIDS atau ODHA, juga perlu tetap dirangkul dan terlibat di ruang-ruang publik dalam kegiatan positif.
Seperti yang dilakukan Barisan Muda Wirausaha Indonesia (BMWI) Jawa Timur, bersama pemerhati AIDS, yang menggelar acara sosial, pada Minggu (13/7/2025).
Acara bertajuk: ‘Berbagi Sembako Family Bersama BMWI dan Peduli AIDS Peduli’, berlangsung di Mantri Cafe Pakiskembar, Pakis, Kabupaten Malang. Sebanyak 45 orang hadir dan mengikuti acara dengan antusias.
Dalam kegiatan ini, panitia membagikan paket sembako berisi bahan kebutuhan pokok kepada komunitas penyintas HIV/AID, kader relawan dan kelompok berisiko seperti para transgender.
Tujuan kegiatan bersama ini, adalah meningkatkan kepedulian sosial mereka, sekaligus memperluas edukasi pencegahan penularan HIV/AIDS.
Tak kalah penting, dengan berkegiatan bersama ini diharapkan pula bisa menghapus stigma negatif terhadap ODHA.
“Kegiatan ini berupa pemberian sembako dan ini upaya bagaimana kita bisa hadir untuk sesama, menyemangati mereka (ODHA) agar tetap kuat dan produktif,” ujar Ketua DPP BMWI, Syamsul Hidayat.
BMWI melibatkan sejumlah tokoh dalam kegiatan tersebut. Seperti mantan Bupati Malang H. Rendra Kresna. Juga pemerhati AIDS dan Rektor Universitas Kepanjen, yang juga Ketua DPW BMWI Jatim, Dr. Tri Nurhudi Sasono.
Para relawan terapi pijat tradisional dan Warga Peduli AIDS (WPA) Kecamatan Turen Kabupaten Malang, juga turut berpartisipasi.
Selama acara berlangsung, peserta mengikuti kegiatan seperti family gathering di Kebun Anggur Gamma Grape Pakis, dengan diskusi edukatif, serta pelatihan praktik terapi pijat tradisional.
Melalui kegiatan semacam ini, kata Tri Nurhudi, diharapkan peserta dapat merasakan manfaat langsung berupa dukungan psikologis dan kesempatan berbagi cerita sesama penyintas.
Terapi tradisional yang diberikan, juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan menjadi alternatif penanganan.
“BMWI merencanakan kolaborasi dengan relawan pijat tradisional, untuk mengembangkan metode alternatif penanganan HIV/AIDS di Jawa Timur,” imbuh Tri.
Dari kegiatan dan memberi ruang publik semacam ini, kata Tri,ereka membuktikan bahwa sinergi komunitas mampu menciptakan perubahan nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan dan marginal. (*/Ra Indrata)