
MALANG POST – Pohon-pohon apel tua di kawasan Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu mulai ditumbangkan. Bukan tanpa alasan. Biaya perawatan yang kian mahal, hasil panen yang seret, hingga harga jual yang tak menentu membuat petani menyerah. Sejumlah lahan apel pun kini berubah jadi ladang sayur.
“Sudah berat mempertahankan apel. Obat mahal, pupuk mahal, panennya sedikit, harganya juga kadang nggak nutup. Jadi ya kami tebang saja, tanami sayur,” ujar salah satu petani apel yang mulai banting stir, Dwi, Senin (14/7/2025).
Menurut Dwi, sebagian besar pohon apel di desanya sudah berusia 40 sampai 50 tahun. Di usia itu, pohon apel makin rapuh, gampang terserang penyakit, buahnya juga kecil-kecil. Kalau dibiarkan, petani justru merugi.
Dwi tak sendiri. Di Desa Tulungrejo dan beberapa kawasan lain di Kota Batu, pemandangan petani menebang pohon apel makin sering terlihat. Lahan apel satu demi satu berubah fungsi.
Data dari Dinas Pertanian Kota Batu memang tak membohongi. Tahun 2022, lahan apel tercatat 1.200 hektare. Tahun ini tinggal 1.092 hektare. Turun 100-an hektare hanya dalam tiga tahun. Mayoritas petani memilih beralih ke sayur dan hortikultura, yang dianggap lebih cepat panen dan lebih pasti hasilnya.
“Kalau terus begini, lama-lama apel tinggal cerita di Kota Batu,” imbuh Dwi.

TEBANG: Salah satu peteni apel di Kota Batu menebang pohon apelnya dan diganti dengan tanaman sayur yang lebih menjanjikan. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
pTak cuma faktor usia pohon. Cuaca yang makin sulit diprediksi juga ikut memperparah. Musim tak jelas, hujan dan panas datang sesukanya. Tanaman apel makin sulit tumbuh maksimal.
Melihat kondisi ini, Wakil Ketua I DPRD Kota Batu, Ludi Tanarto buka suara. Ia prihatin melihat ikon Kota Batu yang mulai terpinggirkan. “Dulu apel jadi kebanggaan Kota Batu. Sekarang petani banyak yang menyerah,” kata Ludi.
Menurutnya, persoalan utamanya ada di permintaan pasar. Apel Batu makin kurang diminati. “Karena itu, kami mendukung penuh langkah wali kota untuk mempertahankan apel sebagai identitas Kota Batu. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal sejarah,” tegas Ludi.
Ia mengusulkan apel diintegrasikan dengan sektor pariwisata. Hotel-hotel di Kota Batu, misalnya, bisa menyajikan apel sebagai buah penyambut tamu alias ‘welcome fruit’. Di destinasi wisata, apel bisa diberikan sebagai suvenir khas Kota Apel.
“Jadi tidak hanya jual apel di pasar. Tapi apel jadi bagian dari pengalaman wisata di Batu. Ini memperkuat branding kita sebagai Kota Apel,” tambahnya.
Ludi juga mendorong pemerintah memberi penghargaan untuk petani apel berprestasi, hingga membuka kerja sama dengan daerah lain seperti Bali. Apel Batu, kata dia, bisa dijadikan bahan dalam upacara adat di sana, membuka peluang pasar baru.
“Yang jelas, apel jangan sampai punah di Kota Apel,” tutupnya. (Ananto Wibowo)