Tradisi Berbalas Kunjung dan Angpau Permen


 
Di Istanbul terdapat 700 masyarakat setempat dan 200 mahasiswa Indonesia yang belajar disana harus beradaptasi dengan  tradisi Lebaran di Turki. Meski memiliki tradisi berbalas kunjung yang notabene sama dengan di Indonesia, tetapi memiliki nuansa yang berbeda.
“Sayangnya Dwi Retno tinggal di lingkungan yang sama-sama pendatang (bukan warga asli Turki), sehingga tidak ada acara bertamu ke rumah penduduk setempat. Namun, anak-anak kecil masih suka datang ke rumah siapa saja dengan membawa keranjang ataupun kantong untuk diisi permen (mirip tradisi helloween),” ulas Retno.
Termasuk tradisi mudik juga dilaksanakan sama dengan di Turki. Hanya bagi masyarakat yang tak memiliki uang dan tak memiliki waktu berlibur yang panjang pasti memutuskan untuk tidak mudik. Ini juga menggambarkan tradisi mengunjungi rumah saudara yang lebih tua. 
“Sebagian orang pada mudik ke orang tua atau nenek kakek. Yang kerjaannya tidak libur lama, atau yang tidak punya uang untuk pulang kampung tentu tidak mudik,” terangnya.
Jika di Indonesia sajian menu Idul Fitri sudah pasti adalah ketupat, namun jangan heran jika di Turki tak dapat memakannya. Sebab, tentu Turki juga memiliki sajian khas Lebaran yakni baklava (jajan manis) dan serbet (minuman) terdiri dari Muhallebi (puding beras), Seker pare (biskuit manis), dan Lokum (turkish delight).
“Makanannya yang disediakan yang manis-manis. Anak-anak kecil datang ke rumah-rumah dengan membawa keranjang ataupun kantong besar untuk minta permen,” imbuh dosen yang melakukan penelitian tentang zakat ini. (mg3/udi)

Berita Lainnya :