Tempat Keselamatan dan Candi Pengusir Wabah Penyakit


Kota Malang memiliki banyak keindahan dan peninggalan zaman dahulu yang kaya sejarah. Salah satunya di Kecamatan Sukun tepatnya di Kelurahan Karang Besuki yang memiliki banyak peninggalan berupa situs.
Karang Besuki sebelumnya merupakan sebuah desa yang masuk Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Setelah mengalami pemugaran Karang Besuki menjadi kelurahan dan secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sukun Kota Malang. Hingga saat ini Karang Besuki terdiri dari empat dusun yakni Klaseman, Sidomulyo, Badut dan Gasek.
Nama Karang Besuki berasal dari dua kata yakni "Karang" yang berarti tanah, halaman atau bumi. Sedangkan Besuki diambil dari bahasa Sansekerta "Vasuki" yang dijawakan. Sejarawan Muda Malang Devan Firmansyah memaparkan, dalam cerita wayang Vasuki merupakan nama naga. Vasuki artinya keselamatan atau keberkahan.
"Jadi bila digabungkan Karang Besuki artinya Tempat Keselamatan, nama suatu tempat juga berkaitan dengan suatu peristiwa yang menyertainya" ujar Devan kepada Malang Post.
Nama tersebut juga berkaitan dengan peristiwa yang melatar belakanginya. Kaitannya di Prasasti Dinoyo 1 menyebut raja Gajayana mendirikan sebuah bangunan suci atau candi sebagai pengusir wabah penyakit yang menyerang warga kerajaan Kanjuruhan, yakni Candi Badut.
Candi Badut yang masih berdiri kokoh hingga saat ini menjadi bukti peninggalan zaman dulu. Namun di sisi lain ada jejak lainnya yang kondisinya memprihatinkan yakni Candi Karang Besuki atau lebih dikenal dengan sebutan Candi Gasek lantaran lokasinya berada di dusun Gasek.
Candi Gasek juga dikenal pula dengan sebutan Candi Wuring (candi yang belum selesai). Namun menurut Devan, candi tersebut bukanlah belum selesai melainkan telah rusak akibat banyak faktor, terutamanya ulah manusia.
"Ada juga situs Yoni Karang Besuki yang letaknya 500 meter dari Candi Karang Besuki tapi tidak banyak diketahui oleh orang. Tempat ini disebut watu Kosek yang dulu dijadikan untuk judi atau mencari nomor togel," terangnya.

Candi Karang Besuki atau Candi Gasek atau Candi Wurung terletak di Kelurahan Karang Besuki Kecamatan Sukun Kota Malang. Candi ini berada tepat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Metro serta berada dalam kepungan makam penduduk.
Devan Firmansyah mengatakan Sejarawan Malang, M. Dwi Cahyono mengatakan, nama Gasek disebut jelas dalam prasasti Pamotoh atau Prasasti Ukir Negara sebanyak tiga kali. "Lempeng ke V, sisi verso berisi Rakrayan patang juru sewaktu rakyat datang di Gasek pada saat pemujaan akan terhalangi. Kata Saat Pemujaan bisa jadi berkenaan dengan ritus di bangunan suci yang ada di Gasek," kata Devan.
Selanjutnya pada Lempeng VI sisi recto baris ke-4 sampai 6 memuat kalimat (untuk) menjaga rsi Jigjaya (dan) maksud raja (bila ada yang) mengungkat-ungkit wewenang rakryan patang juru di Gasek tersiksalah (mereka) dewata. Konteks kalimat ini berkenaan dengan wewenang yang dimiliki rakrayan patang juru bila raja berhalangan hadir. Kiranyan wewenang Rakrayan Pamotoh cukup tinggi, mengingat ia menjabat “rakryan” bagi empat juru (patang juru).
Sementara di Lempeng yang sama, sisi verso baris ke-1 memuat kalimat yang berkenaan dengan kewenangan Dyah Limpa. Dalam catatan kakinya, Dwi juga menuliskan Empat pimpinan (juru) yang dibawahi oleh Rakryan Pamotoh adalah Dyah Limpa di Gasek, Dyah Megat di pasemutan, Dyah Duhet di Ganggang, dan Dyah Tinamin di Tumuh.
Rakryan Pamotoh bukan pejabat di watak Kanyuruhan. Untuk itu dapat diartikan pada akhir abad XII di sub-area barat ada dua pejabat setingkat rakryan antara lain Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanyuruhan. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Gasek, yang merupakan eks. ibukota kerajaan tetap diperhitungkan oleh penguasa Kadiri.(lin/lim)