Tanda Cinta dari Kuta Mandalika


Angin sepoi nan sejuk. Pemandangan indah bukit bergabung dengan pasir putih dan hamparan ombak bersaut-saut meninggalkan perasaan aman dan damai bagi siapapun. Inilah perasaan yang didapat ketika bertandang ke Pantai Kuta Mandalika.
Salah satu destinasi wisata pantai yang bisa menjadi pilihan selain pantai-pantai di Bali. Namanya hampir sama dengan Pantai Kuta. Akan tetapi Pantai Kuta Mandalika dapat memberikan sensasi “mantai” yang berbeda.
Belum lama ini salah satu pecinta wisata, Nani Laksmi, membagikan ceritanya mengunjungi pantai indah yang berada di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Tepatnya di Lombok Tengah.
“Pantai ini disebut primadona di Lombok. Belum lagi dari titik gapura yang bertuliskan Kuta Mandalika, hamparan bukit hijau terlihat jelas dan cantik,” papar pelancong asal Kalimantan Selatan ini kepada Malang Post.
Ia menjelaskan lagi soal lanskap keindahan Kuta Mandalika. Dari kejauhan, di tengah hamparan birunya laut, menjulang beberapa bukit besar, Bukit-bukit ini lah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berswafoto.
Di sela hamparan laut biru dan bukit cantik, bisa dilihat juga perahu-perahu nelayan yang sedang melaut menambah pesona kawasan Kuta Mandalika ini.
“Kalau disini banyak pelancong yang main-main di bibir sungai. Karena indah, pasirnya putih. Tapi tidak sedikit juga yang langsung menuju perbukitan disana hendak mengambil spot tinggi pantai dari bukit,” tegasnya.
Dan tempat ini semakin menarik karena dilengkapi fasilitas tambahan. Yakni diberi tempat bermain anak seperti ayunan, slide atau perosotan anak di bibir pantainya.
Di balik kemolekannya, Kuta Mandalika memiliki cerita rakyat yaitu legenda Puteri Mandalika yang menerjunkan dirinya ke laut dan konon dipercaya menjelma menjadi cacing laut yang disebut Nyale.
“Kalau kata guide kami, memang ini menjadi daya tariknya juga karena ada cerita rakyat dibalik keindahan pantai ini,” ujar perempuan yang memiliki dua putri ini.
Orang-orang pun meyakini binatang Nyale tadi adalah jelmaan Putri Mandalika. Dan akhirnya mereka mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya sebagai tanda cinta pada Mandalika.
Cerita tersebut menjadi asal mula terciptanya upacara atau pesta Bau Nyale (menangkap cacing) yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak. Sampai saat ini upacara itu masih berlangsung antara bulan Februari dan Maret.
“Nah biasanya di bulan-bulan ini ramai pengunjung disini,” papar Nani.
Di samping itu, lanjut Nani, Kuta Mandalika juga termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang mana Kuta Mandalika menarik investor karena keadaan alamnya dan cocok untuk kegiatan pariwisata.
KEK Mandalika tersebut digadang-gadang akan menjadi langkah awal dari serangkaian program besar dalam rangka mewujudkan pariwisata Indonesia yang kuat, sekaligus memberikan efek kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Tidak heran, banyak yang memuji tempat ini, karena di sini bersanding juga masjid yang megah, yaitu Masjid Nurul Bilad.
“Meskipun masjid ini masih dalam tahap penyempurnaan pembangunan, namun sudah diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Oktober lalu. Masjid yang arsitekturnya terinspirasi dari Masjid Kuno Bayan di Lombok Utara ini mempunyai latar pantai Kuta Mandalika,” tandasnya.
Mencapai Kuta Mandalika bukanlah sebuah hal yang sulit. Aksesnya mudah serta dapat ditempuh berbagai jenis kendaraan. Karena jalanan Lombok selalu lurus, dan mudah sekali ditemukan menggunakan Google Maps. Jika perjalanan dari Kota Mataram hanya menempuh waktu sekitar satu jam, dan pantai ini dekat dengan Desa Sasak Sade. (sisca/oci)

Berita Terkait