Punden Yai Beji Sari, Simbol Mojolangu sebagai Desa Kuno


Punden Yai Beji Sari dikenal bersejarah oleh warga Lowokwaru. Tak hanya sebagai situs Petirtaan, punden yang lokasinya tepat berada di pertigaan antara Jl. Vinolia, Jl. Simpang Candi Panggung serta Jl Akordion Selatan itu juga menyimpan kisah sakral.
Punden ini berada di kawasan Panggung, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, tepat berada di pertigaan STIKES Maharani. Namun karena ditumbuhi banyak pepohonan tinggi yang rindang, mungkin masyarakat daerah lain tak menyadari bahwa lokasi tersebut merupakan situs peninggalan kerajaan kuno. Meskipun di bagian depan juga terdapat papan tulisan yang dipasang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang.
Situs tersebut sebenarnya berupa sebuah kolam air jernih yang sumbernya berasal dari bawah tanah. Pohon-pohon besar jenis Epek dan Klampok mengelilingi sumber air yang konon sudah ada sejak peradaban di wilayah tersebut berdiri.
Menurut warga setempat, situs tersebut dahulu miliki sejumlah arca, namun kini sudah tidak dapat ditemui, lantaran ulah pihak-pihak tak bertanggung jawab yang memindahkan atau bahkan menghancurkan arca-arca tersebut.
Selain arca, pada kolam Petirtaan Yai Beji Sari dikisahkan juga memiliki perundakan bertingkat pada setiap sisinya. Namun karena termakan zaman, kini hanya menyisakan perundakan di salah satu sudut bagian kolam di bawah akar pohon besar.
“Sejarah Petirtaan Yai Beji Sari dulunya merupakan tempat singgah rute perjalanan kerajaan zaman dulu kemungkinan pada masa Singosari,” kata salah satu tetua Desa di lingkungan Panggung, Agus Santoso.
Hingga kemudian, karena sumber air ketika itu menjadi kebutuhan paling mendasar, maka dibangunlah pemukiman di sekitar sumber air Punden Beji Sari.
Sampai dengan saat ini, situs yang terletak kurang lebih 500 meter arah barat daya gedung RRI ini hingga saat ini sering digunakan untuk bermeditasi oleh berbagai kalangan yang umumnya justru berasal dari wilayah luar Malang.
“Untuk saat ini masih menyisakan sebagian kelompok yang mempercayai tempat tersebut, yang pasti di tiap-tiap hari tertentu pasti ada yang melakukan ritual,” lanjut Agus.
Jika mendatangi situs tersebut, akan ditemui cukup banyak batu-batu seukuran batu bata yang terkumpul di bawah pohon-pohon besar. Hal tersebut membuktikan bahwa situs Punden Beji Sari dulunya juga memiliki bangunan perundakan.
Belum lama ini, juru rawat situs Punden Yai Beji Sari, Yudi, menambahkan sebuah bangunan perundakan kecil yang berfungsi untuk meletakan sesembahan di samping kolam sumber air. Menurut Yudi, tak sedikit orang yang melakukan meditasi dan meletakkan sejumlah sesajen di perundakan tersebut.
Sayangnya, situs tersebut kini tak terlalu terawat. Sebab memang hanya Yudi seorang yang masih merawat serta membersihkan lokasi tersebut. Namun Yudi yang juga membuka warung di sebelah situs tersebut, terkadang juga mengarahkan pelanggan warung untuk memarkirkan kendaraannya di pelataran sekitar kolam sumber air.
Situs Punden Yai Beji Sari saat ini masih dipahami sebagai cikal bakal munculnya pemukiman di sekitar Mojolangu. Oleh karenanya, masyarakat setempat masih menggunakan situs tersebut sebagai tempat tasyakuran ketika bersih Desa atau ketika perayaan hari jadi Desa.
"Waktu-waktu tertentu kolam sumber air ini kita bersihkan, semua tetua desa dan masyarakat sekitar juga terlibat. Pas hari jadi Desa juga kalau ada karnaval mulainya dari sini," terang Yudi. (mg3/oci)