Pengunjung Dilarang Minta Pesugihan


Lokasi peninggalan peradaban zaman dahulu seperti situs Punden Yai Beji Sari pasti memiliki mitos-mitos yang dipercayai oleh masyarakat sekitar. Seperti halnya terdapat sebuah mitos bahwa tak ada seorang pun yang boleh mengambil ikan yang terdapat pada petirtaan tersebut.
Konon, terdapat seorang warga yang tak menghiraukan mitos tersebut dan tetap memancing ikan di sumber air itu. Kemudian ia mendapat ikan dan membawanya pulang ke rumah untuk dimasak.
Namun ternyata, ikan tersebut seketika berubah menjadi daun dan sampah ketika dimasak.
“Kepercayaan itu memang ada, zaman dahulu kepercayaan terhadap tempat tersebut lebih kental. Namun seiring dengan berjalannya waktu juga mulai memudar,” jelas salah satu tokoh masyarakat Mojolangu, Agus Santoso.
Selain itu, pada kolam tersebut terdapat cukup banyak ikan jenis lele dengan ukuran besar. Kabarnya jumlahnya mencapai lima hingga tujuh ekor ikan lele dengan ukuran 50 hingga 60 cm. Namun, salah seorang warga yang merawat situs tersebut terkadang menambahkan sejumlah iklan peliharaannya dalam kolam.
"Saya terkadang tambahkan beberapa ikan, kemudian ikan itu saya konsumsi juga. Tapi kalau yang ikan asli kolam itu tidak bisa ditangkap. Bahkan pas dikuras pun, ikan-ikan lele itu tiba-tiba hilang. Tapi pas diisi air, ikan lele itu muncul lagi," kata juru rawat situs Punden Beji Sari, Yudi.
Selain itu, juga ada mitos bahwa kayu pohon sekitar situs tersebut tak boleh dimanfaatkan sebagai kayu bakar oleh masyarakat sekitar, sebab jika kayu tersebut dibakar, maka baju orang yang membakar kayu juga akan ikut terlalap api.
Kemudian juga ada kisah, bahwa masyarakat sekitar tak boleh melakukan ritual pesugihan di situs Punden Yai Beji Sari. Jika ada yang melanggar ketentuan itu, maka orang tersebut akan memiliki daging tumbuh di hidungnya.
Lebih lanjut, Yudi sendiri juga mengisahkan bahwa pada situs tersebut juga dihuni oleh berbagai makhluk tak kasat mata. Ia sendiri pernah bertemu salah satu sosok ketika usianya masih belasan tahun, yang kemudian titik pertemuan dengan sosok tersebut ia tanami dengan pohon Klampok. Kini pohon tersebut sudah tumbuh menjulang sekitar enam meter.
"Pertama kali ketemu langsung saya tanami pohon. Tapi setiap orang yang datang ke sini biasanya bertemu dengan sosok yang berbeda beda," lanjutnya. (mg3/oci)