Menelusuri Jejak Leluhur Hutan Pinus Semeru


MALANG - Obyek wisata Hutan Pinus Semeru (HPS) Desa Sumberputih Kecamatan Wajak tidak hanya menawarkan keindahan dan kesegeran alamnya untuk berwisata. Di balik itu semua, ada cerita menarik terkait keberadaan yang kini makin terkenal berkat media sosial tersebut. Apa cerita-cerita itu?
Menurut sejarah, kali pertama yang menemukan tempat itu merupakan seorang pendatang bernama Sarijo dari Suku Melayu, kurang lebih 200 tahun silam. Kemudian Ia bermukim di tempat itu dalam jangka waktu lama. Dia bermukim di balik bukit HPS yang kurang lebih berjarak 500 meter dari tempat itu. Di situ, ada permukiman bernama Kampung Baru yang ada hingga kini.
Secara geografis, Kampung Baru terletak di Dusun Arjosari Desa Sumberputih Kecamatan Wajak. Saat ini terdapat sekitar 22 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di tempat tersebut. “Merekalah (warga Kampung Baru) yang merawat Hutan Pinus Semeru ini. Karena ini merupakan pesan dari leluhur mereka,” ujar Kepala Desa (Kades) Sumberputih  Bambang Poernomo kepada Malang Post.
Dia mengatakan, tidak diperoleh informasi yang jelas darimana Sarijo itu berasal. Yang jelas kata dia, Sarijo bersama kerabatnya datang ke tempat itu berasal dari Suku Melayu. “Keduanya melakukan babat alas dan tinggal di tempat ini,” imbuhnya. Maka dari itu, kata dia, ketika pihak desa bersama masyarakat berniat mengembangkan HPS ini menjadi area wisata, juga terlebih dahulu kulo nuwun atau izin kepada para sesepuh di Kampung Baru.
Selain meminta izin, juga sekaligus niat baik itu mendapat keberkahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Saat melakukan pengembangan area tersebut untuk dibuka sebagai tempat wisata, kata dia, juga dilakukan berbagai ritual. Seperti selamatan dan doa bersama. Kemudian, seluruh kegiatan maupun ritual itu pada akhirnya dikemas pada even suroan. “Setiap tahun warga kami menggelar peringatan suroan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur dan meneruskan warisan leluhur. Selain. Itu, juga memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa supaya selalu diberikan limpahan rezeki,” terangnya.
Saat peringatan Suroan, kata dia, warga menyediakan berbagai hasil bumi seperti aneka buah buahan serta sayur mayur. Selain itu juga ada daging dari berbagai hewan ternak. Kemudian hasil bumi itu ada yang dimasak untuk disantap bersama-sama warga lainnya. “Untuk ritual yang dilakukan warga kami yang ada di sini adalah suroan. Ini tidak boleh dilewatkan. Lantaran kalau dilewatkan maka dipercaya akan mendatangkan balak bencana,” tuturnya.
Tradisi masyarakat yang menggelar ritual suroan itu kata dia, membuat masyarakat diberi limpahan rezeki. Salah satunya melalui perantara HPS yang ramai dikunjungi oleh wisatawan. “Masyarakat desa kami merasakan manfaatnya dari HPS ini. Yang jualan makanan serta oleh-oleh menjadi laku. Begitu pula yang bertani, hasil pertaniannya melimpah,” pungkasnya. (big/lim)

Berita Lainnya :

loading...