Lebaran di Turki

 
TAHUN kedua Lebaran di Istanbul Turki membuat Dwi Retno Widiyanti rindu ramainya suasana malam Takbiran, layaknya di Indonesia. Dosen yang mengajar Ekonomi Islam di FEB Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menggambarkan Lebaran di negara yang mayoritas muslim ini sangat sederhana, meskipun di beberapa tempat tertentu masih ada nuansa sekulernya. 
Tradisi saling berkunjung dan mudik pada hari raya juga tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Hari Lebaran disebut Şeker Bayram bagi masyakarat Turki setempat.“Disini suasana Lebarannya ramai, sebelum hari H bazaar-bazaar banyak dibuka, ada juga yang menambah jam buka hingga sahur, tapi tidak semua. Namun untuk Di mall-mall banyak sale, termasuk kegiatan di pasar yang lebih sibuk dari biasanya, baik sebelum hari H maupun setelah hari H,” ungkap Dwi Retno Widiyanti kepada Malang Post.
Dosen yang melanjutkan S3 di Turki ini membeberkan perbedaan berlebaran di Indonesia dengan Turki, yang dirasakannya selama ini. Masyarakat Indonesia tak akan menemui malam Takbiran. Bahkan suasana salat di Istanbul sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. 
“Salat Idul Fitri rata-rata dilaksanakan hanya satu jam setelah salat Shubuh berjamaah. Di antara salat Shubuh dan salat Idul Fitri diisi dengan kuliah Shubuh oleh khatib. Tahun ini dilaksanakan jam 6 pagi, dan khutbah Idul Fitri selesai tepat jam 6.30 pagi,” bebernya.
Dwi Retno Widiyanti memutuskan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di Sulaymaniye Cami. Masjid Sulaymaniye terletak di lokasi yang sangat strategis dan juga mempunyai bangunan dengan arsitektur canggih di zamannya. 
“Saya salat disini untuk menghadiahi diri sendiri saja, karena tahun ini saya sudah selesai ujian materi kuliah di program doktor saya dan berharap dapat melihat dunia yang lebih luas lagi seperti saat saya berdiri di halaman masjid ini sambil melihat pemandangan golden horn, bosporus, Asia, dan Eropa,” tutupnya. (mg3/udi)

Berita Lainnya :

loading...