Dusun Rejoso, Sentra Industri Kerajinan yang Wajib Dikunjungi


BATU - Setiap daerah memiliki sejarahnya yang berbeda. Begitu pula budaya di masyarakatnya. Misal di Kota Malang, ada industri keramik di Kota Malang dimulai pada tahun 1953 hingga saat ini. Begitu pula di Kota Batu yang memiliki industri kerajinan perkakas dapur yang ada sejak 1970.  Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu adalah wilayah yang memiliki sejarah dan budaya yang hingga kini masih melekat erat. Dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 orang, sekitar 80 persen penduduk bekerja sebagai pengrajin.
Hal itu diungkapkan oleh pemiliki UD Arjasa, Fransisco yang hingga saat ini bergelut sebagai perajin kayu. Ia adalah tangan kedua penerus kerajinan berbahan dasar kayu setelah ayahnya. Sebagai pelopor kerajinan pertama di Dusun Rejoso, nama UD Arjasa sudah tidak asing bagi masyarakat Batu. Nama Arjasa kepanjangan dari Arek Rejoso. Dimana mulai tahun 1970 UD Arjasa bergerak di bidang kerajinan kayu.
"Mulanya UD Arjasa ini adalah pelopor kerajinan kayu di Dusun Rejoso. Di mana dulu kami membuat peti bir bintang. Itu berjalan dari tahun 1970-1990 dengan pengerjaan manual," ujar Frans kepada Malang Post.
Setelah berjalannya waktu, pada tahun 1990 mulainya berkembang untuk membuat kerajinan seperti alat-alat dapur, asesoris rumah papan nama kayu, hiasan tempat sampah, hingga barang-barang mebel. Itu tak hanya dikerjakan di usaha dagang miliknya saja.
Melihat berkembang pesatnya kerajinan kayu tersebut, diikuti oleh warga sekitarnya. Hingga saat ini, ada 64 UD atau UMKM yang bertumbuh. Pertumbuhan itu mulai tahun 1980an.
"Karena banyaknya masyarakat Dusun Rejoso yang bergelut di kerajinan kayu. Tidak salah jika Dusun Rejoso disebut sebagai sentra industri kerajinan kayu," imbuh laki berusia 50 tahun ini.
Bahkan, dengan banyaknya pengrajin, UD Arjasa selaku pelopor juga menyuplai bahan kayu di seluruh Dusun Rejoso. Di mana saat ini, dalam sehari ia bisa memotong 8 kibik kayu atau per bulan memotong 240 kibik.
"Jadi tak hanya sebagai pelopor. Tapi kami juga menyuplai kayu warga yang masih aktif. Meski tak semua. Setidaknya 15 fuso datang setiap bulannya mengantarkan bahan baku kayu," bebernya.
Sehingga, dengan produktifitas tersebut. Tak heran saat Desa Junrejo masih ikut Kabupaten Malang hingga saat ini ikut wilayah Kota Batu menjadi salah satu dusun yang wajib dikunjungi sebagai sentra industri kreatif. (eri/oci)

Berita Lainnya :