Arca Agastya di Candi Badut


Gasek, menurut Sejarawan Dwi Cahyono, merupakan salah satu daerah tertua di wilayah Malang dan juga daerah yang memiliki bangunan suci. Candi Karang Besuki atau Candi Gasek diduga berusia sama dengan Candi Badut.
Bahkan langgam arca yang ditemukan di sekitar candi diduga berasal dari Candi Besuki memperkuat dugaan ini. Arca yang disebutkan itu adalah arca seorang Rsi. Yaitu Rsi Agastya atau disebut juga Guru yang biasa menempati relung sebelah selatan dinding luar candi. Pola pahat yang naturalistis dan halus erat kaitannya dengan ciri langgam Jawa Tengah tua.
Candi Karang Besuki atau Candi Gasek pada tahun 1950-an, bentuk candi pada saat itu masih memiliki dinding setinggi kurang lebih 150 cm. Tetapi yang tampak pada saat ini hanyalah merupakan onggokan batu yang tidak terawat dan ditumbuhi oleh semak belukar kanan kirinya.
"Pak Dwi Cahyono dalam bukunya menjelaskan bahwa permukaan tanah di Karang Besuki lebih tinggi daripada wilayah Merjosari, sehingga terbebas dari kemungkinan luapan air dari Kali Metro sehingga bisa diartikan kering," jelasnya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan memang demikian adanya. Dusun Gasek berada di tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya dan tanahnya kering. Wajar jika penduduk yang masih agraris menanam tanaman-tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti palawija di kebun mereka.
Desa Karang Besuki mungkin dapat dihubungkan dengan bangunan Candi Badut atau Candi Besuki, yang dalam Prasasti Dinoyo disebutkan bahwa pembangunan tempat suci oleh Raja Gajayana dimaksudkan untuk melindungi warga kerajaan dari suatu penyakit yang menghilangkan semangat. Dengan sekalian pembesar negeri dan penduduknya ia membuat tempat (candi) sangat bagus bagi sang maharesi (Agastya) untuk membinasakan penyakit yang menghilangkan kekuatan. Sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama Daerah Selamat yang identik dengan Karang Besuki. "Namun saat ini candi Gasek sudah hancur akibat dibangun jalan. Dulu tinggi 1.5 meter, dan di bagian dinding terdapat relief flora dan fauna," ujarnya sedih

Arca Agastya pada mulanya dibuat di dalam Candi Badut dengan menggunakan kayu Cendana peninggalan nenek moyang. Hal ini tertuang di Prasasti Dinoyo, kemudian oleh Gajayana diganti dengan arca batu hitam.
Arca ini kemudian ditasbihkan dengan sebuah upacara keagamaan oleh para ahli rgweda, brahmana, pandhita, serta kaum sardu dan cerdik pandai pada tahun Saka 682. Dan ditandai dengan sengkalan Nayana Vasu Rasa pada bulan Margashirsa hari Jumat tanggal 1 paro gelap atau 28 November 760 menurut penanggalan Masehi.
Di dusun Gasek juga ditemukan Arca Siwa Mahaguru. Dari langgam pahatannya dapat diketahui bahwa arca semacam ini jarang ditemukan di Jawa Timur atau bahkan tidak ada. Lantaran menggunakan gaya kesenian abad VIII sampai dengan IX Masehi yang pada kurun waktu tersebut didominasi oleh Jawa Tengah. Kemiripannya juga dapat dibandingkan dengan arca-arca Siwa Mahaguru seperti Arca Mahaguru dari Candi Banon, Candi Sambisari, Candi Prambanan dan sebagainya.(lin/lim)