Bikin Mudah Beradaptasi


18 tahun menjadi backpacker membuat sosok Stevent Avo Kristanto lebih terbuka. Termasuk terhadap pendapat atau masukan dari orang lain. Menjelah 22 negara di dunia, Steve sapaan akrabnya belajar banyak hal. Ia berusaha melihat yang lain dari yang biasanya dilihat.
Lulus SMA tahun 2001, Steve mulai backpacker. Awalnya ke sejumlah tempat dalam negeri.
Hingga pada 2005 ia memutuskan berkeliling Indonesia – China. Yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam yang ditempuhnya selama 14 hari.
"Saya mencoba keluar dari zona nyaman. Kita sudah biasa hidup di lingkungan keluarga,  dengan keluar dari zona itu, akan menemukan sesuatu yang baru dan banyak manfaatnya," ujar Steve.

Sensasi Nginap di Rumah Warga


SUDAH 11 tahun pasangan suami istri (pasutri) Nurul Hidajati dan Robi Sugianto Tedjakusuma traveling ke luar negeri. Mereka memilih ala backpacker ke 35 negara sejak tahun 2008. Sekali jalan bisa menghabiskan waktu selama sebulan lebih di luar negeri. Sudah merasakan menginap mulai dari hotel, hostel, apartemen hingga camping. Bahkan di rumah warga sekalipun.
Nurul Hidajati dan Robi Sugianto Tedjakusuma punya hobi yang sama. Menjelajah dunia berdua."Kami melakukan dan mengatur perjalanan sendiri, tanpa ikut tour. Jadi bisa lebih bebas menentukan transportasi, penginapan dan lainnya" kata Nurul.

Bermodal Ransel ke 46 Negara


DENGAN tas ransel alias backpack, Andreas Prayoga menjelajah 46 negara sejak tahun 2004. Tiga tahun kemudian,  Andreas diserang struk  hingga membuatnya sulit berbicara. Tapi itu bukan hambatan lantaran sampai sekarang masih backpacker.
“Saya suka backpacker. Sampai saat ini sudah 46 negara yang saya kunjungi. Paling jauh ke Alaska, US,” ungkap Andreas.
Warga perumahan Springhill Sawojajar ini awalnya tak punya alasan khusus mengapa memilih plesir dengan cara backpacker. Hanya saja Andreas merasa tertantang dengan ide berkeliling dunia tapi tak ribet. Sudah begitu, lebih santai karena membawa backpack.

Berita Lainnya :