Tarawih Sepanjang Tahun

Oleh : Husnun N Djuraid
Wartawan Senior Malang Post, Pendidik di UMM


Ketika Ramadan sudah sampai pertengahan, para jamaah salat Tarawih semakin maju. Dari empat shaf menjadi tiga atau bahkan cuma dua shaf. Jamaah salat Tarawih mulai berkurang.  Yang terjadi adalah seleksi iman, mereka yang imannya kuat masih tetap bertahan sampai akhir. Itulah tujuan tertinggi orang beriman, menjadi orang bertakwa. Orang punya kedudukan mulia di sisi Allah. Siapa tidak suka berada di sisi Allah. Berada di sisi Pak Wali Kota saja senangnya bukan main. Kamera pun disiapkan. Jeprat-jepret. Foto pun diunggah di semua media sosial.

Tapi kenapa tidak banyak yang berminat pada kemuliaan berada di sisi Allah? Meskipun bukan wajib, salat Tarawih tak bisa dilepaskan dari puasa. Tarawih adalah latihan untuk menjadi muttaqin, orang yang bertakwa. Nanti setelah 1 Syawal, saat Ramadan pergi, Tarawih tetap dilakukan, meskipun namanya bukan lagi Tarawih, Tahajud. Karena itu merupakan ciri orang bertakwa. Dalam surat Adzariyat ayat 17 disebutkan, ciri pertama orang bertakwa adalah ‘’Orang yang sedikit tidurnya pada waktu malam.’’
Untuk apa? Bukan untuk nonton Liga Champions atau main game, tapi untuk salat malam. Maka, kalau ingin puasanya sukses menjadi orang bertakwa, maka kebiasaan Tarawih di bulan Ramadan harus dilanjutkan 11 bulan berikutnya. Lanjutan dari Adzariyat ayat 18 dan 19 adalah, mereka yang banyak beristighfar pada waktu sakhur dan dalam hartanya ada hak bagi orang yang meminta maupun yang tidak meminta.

Itulah sebabnya, amalan-amalan selama Ramadan harus dilakukan dengan riyadah sepenuh hati, bersungguh-sungguh hanya karena Allah. Jangan lupa, lakukan dengan hati gembira, bukan terpksa atau sekadar menggugurkan kewajiban. Kesenangan melakukan sesuatu akan berdampak pada keinginan untuk melanjutkan terus menerus. Tarawih pun harus dilakukan dengan gembira agar setelah Ramadan tetap bisa melakukan ibadah salat malam itu.

Berita Lainnya :