Super Diklat itu bernama Ramadhan

Oleh  R. Zakaria Subiantoro, SE,MH
Anggota CMM Malang 210


Sampai hari ini, detik ini, masih banyak kalangan yang beranggapan bahwa Islam itu penghambat kemajuan. Kita semua tahu bahwa itu semua berasal dari para pemikir barat, tapi juga tidak sedikit dari kalangan intelektual muslim yang berpendapat demikian.
Mereka mungkin beranggapan, bahwa Islam merupakan agama yang hanya mengajarkan persoalan-persoalan ritual belaka. Mereka yang mempunyai pemahaman seperti itu, belum mengetahui bahwa Islam merupakan sistem yang komprehensif dan universal yaitu menyangkut seluruh aspek kehidupan.

Komprehensif inilah yang merupakan kesempurnaan Islam karena mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek ritual (ibadah) maupun aspek muamalah (aturan main dalam kehidupan antar manusia).
Kesempurnaan Islam dimulai dari diri Rasulullah SAW dan Kitab yang dibawanya; Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Anbiyaa': 107)
Kemudian Allah SWT telah mendeklarasikan tentang kesempurnaan Islam dalam QS. Al Maa'idah : 3
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.                                                    
Sedangkan universal, diartikan dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat serta berlaku hingga akhir zaman nanti. Universalitas ini bisa sangat jelas kita lihat pada aspek muamalah, dimana muamalah tidak membeda-bedakan antara kita yang beragama Islam dengan mereka yang beragama lain.
Aspek muamalah menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan  keamanan. Mari kita ke aspek muamalah dibidang ekonomi, dengan pertanyaan sudahkah kita mengenal prinsip-prinsip ekonomi yang dikehendaki oleh Islam?
Perlu kita ketahui, bahwa saat kita bangun tidur sampai tidur kembali sebagian besar aktivitas yang kita lakukan adalah aktivitas ekonomi, baik dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumtif, produktif maupun distributif.

Namun sebagian besar kita tidak menyadari, bahwa sistem ekonomi yang kita jalankan selama ini adalah sistem ekonomi kapitalis (yang berasal dari barat) dimana prinsip ekonominya adalah mencari keuntungan setinggi-tingginya, dengan pengorbanan/biaya yang serendah-rendahnya.
Efek prinsip ekonomi kapitalis adalah merusak moral, karena untuk mencapai peningkatan ekonomi (harta) kita akan menggunakan segala cara, siapa yang kuat (permodalannya) dialah yang menang. Sehingga berimbas kepada sifat individualistis yang sangat bertentangan dengan Islam.
Sistem ekonomi kapitalis telah menunjukan kebobrokan yang memporakporandakan perekonomian. Di Indonesia saat terjadi krisis moneter (krismon) tahun1998. Banyak sekali perusahaan terpaksa melakukan PHK terhadap karyawannya bahkan banyak pula perusahaan yang terpaksa harus gulung tikar.
Di sektor perbankan yang merupakan motor penggerak roda perekonomian banyak yang bangkrut, melakukan penggabungan sesama bank dan suntikan modal melalui Bank Indonesia berupa Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Saat itu Allah tunjukan kepada kita bahwa ada sebuah bank yang tidak terlalu terpengaruh yaitu satu-satunya bank yang menjalankan operasionalnya berdasarkan syariat Islam. Dari sedikit cerita terkait krismon tahun 1998 tersebut adalah bahwa sistem ekonomi kapitalis bertentangan dengan nilai-nilai Islam.  
Allah SWT berfirman dalam surat an-Nissa ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.
Selama 30 hari di bulan Ramadan, kita mendapat materi diklat (pendidikan dan pelatihan) baik pada aspek Ritual (HabluminAllah) dan Muamalah (Habluminannas) dimana pada akhir diklat kita semua menuju lapangan untuk mendeklarasikan sebuah kemenangan berupa melaksanakan shola ied. Tapi ingat ada sebuah pesan terakhir sebelum melaksanakan shola ied yaitu terkait kepedulian kepada sesama yang kurang beruntung secara ekonomi dengan menyalurkan terlebih dahulu berupa Zakat Fitri.
Artinya apa? Inilah sebuah pesan ekonomi berbasis syariah. Transaksi komersial dalam ekonomi Islam adalah transaksi riil dimana penambahan harta hanya bisa dilakukan dengan 3(tiga) cara, yaitu dengan jual beli untuk mendapatkan marjin, dengan sewa menyewa untuk mendapatkan jasa dan investasi (kerjasama) untuk mendapatkan bagi hasil, dan hasilnya dikeluarkan berupa Zakat.
Sebagian besar kaum muslimin, mengenal halal dan haram hanya pada makanan dan minuman saja sedang yang terkait aktivitas ekonomi masih banyak pertimbangan. Rumah kita bukan disini tapi di akherat, untuk pulang kerumah kita hanya dengan cara menjalankan syariat-Nya, termasuk dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Semoga bermanfaat.
 

Berita Lainnya :