Mengi'tikafkan Tubuh, Menghijrahkan Hati dan Pikiran

Oleh : Halimi Zuhdy
Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maliki Malang


Indah sekali ajaran Islam, dalam setiap gerak ibadahnya, ada hening, senyap, dan harmoni. Dalam gerak hidupnya ada puasa, dalam puasa terselip i'tikaf, dalam i'tikaf tersua tuma'ninah. Dalam Salat, ada gerak; takbir, rukuk, sujud, i'tidal dan tahiyyat, tapi dalam geraknya terselip tuma'nina.
Dalam haji, ada gerak; thawaf, jumrah, dan sa'i, tapi ia harus berhenti (wuquf), berlanjut mabit (bermalam dan diam) di Muzdalifah dan Mina, semuanya harmoni gerak dan diam. Indah sekali.

Untuk menjadi kupu-kupu yang membunga warna, terbang mengejar kumbang, ia bermula puasa, beri'tikaf dalam kepompong, bertafakkur dalam dengkur, melihat alam dalam senyap. Dari menjijikkan ketika meng-ulat, menghilang (i'tikaf) tuk bertadabur, kemudian bertebar ke alam menemui bunga-bunga (takbir kemenangan).

I'tikaf, tidak hanya diam dalam masjid, tapi dia berfakkur, mentuma'ninakan hati, menjauhkan diri dari hiruk pikuk kefanaan harta, jabatan, dan kemeriahan dunia. Ia i'tikaf, diam, mensucikan mulut dengan dzikir dan Alqur'an, menirmalakan hati dari; iri, dengki, sombong, riya', suuddhan, dan syahwat.
I'tikaf, bukan lari dari gemerlap dunia, tapi diam tuk mencemerlangkan hati, mementari dunia menuju hakekat kediriannya dari bergumul dunia. I'tikaf, tidak menyepi untuk menutup diri, tapi bersembunyi untuk menguatkan hati dan mengakarkan pikiran. Seperti biji-biji yang terbenam, tuk menjulangkan pohon, melangitkan dedaunan, dan buah-buah yang menyegarkan.
Kelihatan tenangnya air di sungai, bukan diamnya beku, tapi dasyatnya arus menggerus yang kaku. 5 hari, atau 4 hari lagi, akan usai semua detik yang berlipat pahala, satu huruf Alquran yang berpulun-pulun ganjaran, harinya penuh berkah, diamnya ibadah, akan segera usai, selesai, khatam. Menunggu 11 bulan lagi, tuk melipat-lipat pahala lagi.
Mari kita ber'tikaf, mengajar hati, mempelajari diri, menemukan pikir kembali dalam Rumah Tuhan yang penuh cahaya ilahi. Beri'tikaf tidak hanya untuk menemukan Lailatul Qadar, tetapi ia untuk menemukan diri. Memenjarakannya (ihtibas), untuk tak selalu melihat gemerlap dunia, karena kehidupan sesungguhnya bukanlah di dunia, karena suatu saat, akan benar-benar kembali selamanya, dan tak kan kembali lagi. (*)

Berita Lainnya :