Mendirikan Pesantren, Jadikan Napi sebagai Santri


 
MALANG - Sekitar satu tahun yang lalu, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM), Yasona Laoly meresmikan Pondok Pesantren At Taubah yang terletak di dalam Lapas Klas I Lowokwaru Malang. Pondok pesantren yang selesai dibangun pada 15 April 2017 itu memiliki berbagai macam kegiatan keagamaan, dengan harapan para santri yang masuk di dalamnya semakin religius.
Pondok Pesantren tersebut terletak di salah satu sudut Lapas Klas I Lowokwaru dan memiliki gedung sendiri yang terletak tak jauh dari Masjid At Taubah. Gedung itu cukup luas dan mampu menampung ratusan santri. 
Kepala Lapas (Kalapas) Klas I Lowokwaru Malang, Farid Junaidi mengatakan, sebelum menjadi santri, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) harus melalui beberapa assessment yang dilakukan pihak Lapas dan sejumlah psikolog. “Saat ini, pada Pondok Pesantren At Taubah memiliki sekitar 600 orang santri,” terang dia ketika dihubungi Malang Post.
Dikatakan, pesantren didirikan sebagai bentuk dukungan dari pihak Lapas untuk membantu para WBP menjadi orang yang lebih baik lagi. Pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa pihak agar para santri bisa memperdalam ilmu agama dan meramu kegiatan apa saja yang disiapkan untuk ponpes tersebut.
"Kita coba cari tahu konsep pesantren yang tidak membosankan dan para napi dapat merasa betah. Napi yang tidak ikut jadi kepingin ikut," kata dia. 
Untuk menjadi santri, Farid menegaskan, tidak ada kriteria khusus bagi mereka yang ingin mengikuti kegiatan pada ponpes tersebut. Napi yang tak tahu sama sekali tentang pengetahuan agama justru yang paling didorong untuk mengikutinya. Terlebih bagi mereka yang memiliki keinginan berubah secara sungguh-sungguh. 
Ada berbagai macam kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan setiap harinya. Sejak dini hari, mereka melakukan berbagai kegiatan, mulai dari Salat Subuh, Tadarus Alquran dan aktivitas lainnya. “Kegiatan mereka full. Selepas jam 09.00, mereka ada kegiatan lain. Seperti kunjungan dan juga asah keterampilan. Setelah Dhuhur, baru lanjut lagi,” tambah Farid.
Tak hanya baca Alquran dan salat, para WBP setiap harinya juga mempelajari hadist dan ilmu fiqih dari para ahlinya. “Kami juga memiliki kelas belajar Bahasa Arab, mendengarkan ceramah hingga baca tulis Alquran,” kata dia.
Para santri yang ada di ponpes tersebut memiliki pendamping khusus dan selalu ada evaluasi. “Ada psikolognya dan juga petugas khusus untuk evaluasi para santri,” kata dia.
Farid menambahkan, dengan adanya ponpes tersebut, pihaknya berharap supaya santri ketika keluar nanti bisa menjadi salah satu agen perubahan dan berguna untuk keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Sehingga bisa kembali ke masyarakat menjadi manusia yang taat hukum dan tidak melakukan pelanggaran lagi.
“Pendekatan keimanan dan ilmu agama membuat para santri menjadi lebih baik. Kami berharap bisa menjadi contoh yang baik dan semakin khusuk ibadahnya,” papar dia. (tea/udi)

Berita Lainnya :