Membentengi Puasa Agar Tidak Sia-Sia

Oleh : Akhmad Fakhrur Rouzi
Guru Pendidikan Agama Islam SMP ‘Aisyiyah Muhammadiyah 3 Kota Malang


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah : 183)
Bila kita membaca ayat di atas, tujuan utama puasa adalah menjadikan orang yang berpuasa itu menjadi hamba yang bertaqwa. Artinya, bila ada orang yang berpuasa tetapi puasanya tidak menjadikan dirinya sebagai hamba yang bertaqwa, maka akan sangat rugi sekali. Terkait dengan hal itu Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan kita dalam haditsnya;  betapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi puasanya hanya menjadikan dia lapar dan dahaga saja.
Dari sabda Nabi Muhammad SAW ini bisa kita lihat bagaimana bila puasa itu tidak dibentengi dengan baik, maka puasa yang dikerjakan hanya berpotensi menghasilkan lapar dan dahaga saja, dan bahkan jauh dari tujuan puasa yaitu menjadikan hamba Allah yang bertaqwa.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita yang berpuasa untuk menjaga puasa kita, agar tujuan akhir dari puasa yaitu menjadi hamba Allah yang bertaqwa bisa tercapai. Oleh karena itu ada beberapa amalan utama di bulan Ramadan yang bisa kita jadikan benteng bagi puasa kita, agar puasa yang dikerjakan tidak seperti yang Nabi Muhammad gambarkan dalam hadits di atas.
Pertama, memperbanyak sedekah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah SAW ditanya oleh sahabat, sedekah mana yang paling utama. Beliau menjawab, sedekah di bulan Ramadan. Artinya bila di bulan-bulan selain Ramadan kita sudah biasa bersedekah maka di bulan Ramadan lebih kita intensifkan sedekah kita. Lebih kita perbanyak sedekah kita. Dan salah satu yang menjadi istimewa di bulan Ramadan adalah orang akan terasa mudah dan ringan untuk banyak bersedekah.
Dan juga yang tidak kalah penting lagi adalah balasan yang Allah sediakan bagi orang yang gemar bersedekah bukan melulu berupa materi atau uang saja, tetapi juga bisa berwujud kesehatan, keluarga yang bahagia dan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Kedua, bertadarus Al Quran, dalam sebuah haditsnya Rasulullah menyampaikan bahwa beliau setiap malam di Bulan Ramadan selalu bertadarus Alquran dengan Malaikat Jibril. Artinya Rasulullah mengisi malam-malam Ramadan dengan banyak membaca Alquran.
Lantas yang menjadi tujuan utama bertadarus Alquran itu adalah bukan mengejar banyak khatamnya saja, tapi bagaimana kita bisa berinteraksi secara mendalam dengan Alquran. Kita harus tahu apa arti atau makna yang kita baca, sehingga apa yang dibaca bisa diamalkan. Jangan sampai sudah khatam Alqur’an berkali-kali akan tetapi tidak mengerti apa yang Allah SWT inginkan dari yang kita baca. Bila hal itu terjadi, maka komunikasi kita dengan Allah SWT telah terputus.
Ketiga, mendirikan salat di bulan Ramadan atau yang biasa kita sebut dengan salat tarawih, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah menggembirakan para sahabat dengan menegakkan salat di bulan Ramadan, dan beliau bersabda ; barangsiapa yang menegakkan qiyam (shalat) Ramadan dengan mengharap iman dan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Yang terakhir adalah beri’tikaf di 10 hari terakhir, seperti kita mafhum bersama bahwa Allah SWT akan menurunkan lailatul qadar pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan, seperti firman Allah SWT dalam surat al Fajr ayat 2, demi malam yang sepuluh. Beberapa ahli tafsir mengatakan yang dimaksud malam yang sepuluh dalam ayat ini adalah 10 hari terakhir di bulan Ramadan.
Hal yang senada juga disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, adalah Rasulullah itu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadhan”.
Maka di penghujung Ramadan kita harus memaksimalkan ibadah kita dengan melakukan I’tikaf. Bukan malah sebaliknya di penghujung Ramadan yang dimaksimalkan adalah belanjanya untuk mencukupi kebutuhan hari raya, karena di akhir-akhir Ramadhan banyak toko yang memberikan diskon besar-besaran.
Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan puasa yang kita kerjakan pada Ramadan tahun ini menjadi puasa yang bermakna bagi diri kita yaitu menjadikan kita hamba Allah yang bertaqwa, bermakna bagi masyarakat kita yaitu menjadikan masyarakat yang selalu dirahmati oleh Allah SWT, dan bermakna bagi bangsa dan Negara kita yaitu Allah menjadikan bangsa ini bangsa yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur. Aamiin. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Berita Lainnya :