Lepas Dari Rektor, Jadi Pengasuh Pesantren

 
LEPAS dari jabatan rektor Universitas Brawijaya (UB) Malang, ternyata Prof M. Bisri tidak lantas bebas dari tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin ummat, tapi justru sekarang malah mengembang amanah sebagai pengasuh pesantren, yang dulu dirintis dan dibangun adik kandungnya, Almarhum Almaghfurllah KH Lukman Al Karim, yang akrab disapa Gus Lukman.
‘’Ya sekarang berubah haluan, setelah tidak jadi rektor, sekarang harus ngurusi santri. Meski masih ada kewajiban mengajar di Kampus. Sebab setelah ditinggal Gus Lukman, Ponpes Bahrul Maghfiroh praktis tidak ada yang meneruskan. Sehingga saya selaku keluarga ikut bertanggungjawab untuk ikut mengembangkan,’’ kata Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh, Prof. M. Bisri kepada Malang Post, kemarin.
Bahkan, menurut mantan Rektor UB Malang ini, secara perlahan mulai menerapkan teknologi informasi (IT) berbasis Islam di Ponpesnya. Mulai administrasi santri, model pengajaran sampai pengelolaan pengembangan pesantren ke depan. 
"Sekarang sudah mulai jalan sedikit. Namun tidak keluar dari koridor Islam walaupun itu IT," tambah Gus Bisri. 
Dikatakannya, hal tersebut mulai dibangun sejak sekitar enam bulan yang lalu. Kepengasuhan Ponpes memang beralih ke Prof. M Bisri sejak wafatnya Almarhum Gus Lukman. Keputusannya untuk meneruskan mengasuh Ponpes dikarenakan permintaan keluarga serta para pengurus Ponpes.
Semenjak kepemimpinannya, manajemen Ponpes yang terletak di Jalan Joyo Agung, Tlogomas Lowokwaru, Kota Malang ini diungkapkan Gus Bisri telah ditata ulang. Mulai dari kemandirian ekonomi pondok, struktur organisasi hingga legalitasnya.
Status tanah dari Ponpes Bahrul Maghfiroh sebagian besar juga belum diwaqafkan. Sehingga menurutnya legalitas segera dibutuhkan agar bisa diwaqafkan ke Yayasan. "Agar tidak ada yang memiliki secara pribadi, tapi milik umat," tandasnya.
Ia memaparkan, saat ini jumlah santri yang tergabung dalam Ponpes dengan luas sekitar empat hektar ini hampir mencapai 500 orang. Tingkatannya yakni mulai TK, SD, SMP dan SMA. Selain pesantren, para santri juga mendapat pendidikan sekolah umum."Yang mondok hanya yang SMP dan SMA. Sedangkan siswa TK dan SD tidak masuk pondok, mereka hanya mengikuti sekolah umum," kata putra KH Fattah ini. 
Untuk santri SMP dan SMA mengikuti sekolah umum mulai jam 07.00-12.30 WIB. Kemudian mereka mengikuti pelajaran agama mulai jam 13.00 dengan dibimbing para ustadz. Jumlah ustadz dan guru aktif yang mengajar di Ponpes Bahrul Mahgfiroh saat ini sekitar 50 orang. Mereka terdiri dari lulusan sarjana, magister bahkan doktor. Sistem sekolah umum yang diterapkan juga tidak berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Menurutnya, pendidikan umum pada para santri tidak kalah penting dengan pelajaran agama. "Karena kalau hanya ngaji kan tidak semua santri dicetak menjadi kiai," ungkap Gus Bisri, yang mengaku pernah sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) Negeri di Jalan Bandung (sekarang MAN 2 Malang).
Diungkapkan, hingga saat ini para santri masih tidak dipungut biaya sama sekali. Mereka hanya iuran mengumpulkan uang makan yang nantinya dikelola bersama-sama. "Karena kalau masalah makan, mondok tidak mondok ya tetap saja makan," paparnya.
Ia mengharapkan, Ponpes yang telah didirikan oleh adiknya ini dapat menghasilkan manusia selain yang baik dan benar, namun juga profesional di bidang masing-masing. "Semua orang tua berharap anaknya punya akhlak yang mulia. Akhlakul karimah. Sehingga pola pembinaan, anak mulai kecil masuk pondok agar diarahkan menjadi manusia yang berakhlak. Terlebih dalam pondok sekolah umum juga ada," tukas Dosen Jurusan Teknik Pengairan ini.
Ponpes Bahrul Maghfiroh juga terkenal dengan pusat rehabilitasi sosial mantan pecandu narkoba atau dikenal dengan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Hingga saat ini, ada delapan orang yang tergabung dari 50 target kamar. "Karena sudah banyak yang keluar. Tapi kami tetap menerima," pungkas Gus Bisri, yang juga Wakil Ketua Takmir Masjid Agung Jami Malang. (tia/udi)

Berita Lainnya :