Khutbah Ramadan Nabi Muhammad SAW

Oleh : Akhmad Fakhrur Rouzi
Guru Pendidikan Agama Islam SMP ‘Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang


“Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam yang utama. Jam demi jamnya adalah jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu merupakan ibadah, amal-amalmu diterima dan do’a-do’amu dikabulkan. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya (Al-Qur’an)”.
Rangkaian kalimat yang indah di atas adalah sekelumit dari khutbah Nabi Muhammad tentang keutamaan bulan Ramadan. Harusnya khutbah Nabi Muhammad tersebut bisa menjadi pelecut semangat kita dalam menjalani “lagi” bulan Ramadan tahun ini.

Saya katakan menjalani “lagi” karena selama hidup pasti sudah beberapa kali kita bertemu bulan Ramadan dan menjalankan ibadah puasa di bulan itu.
Maka kesempatan yang masih Allah berikan kepada kita bertemu dan menjalani Ramadan tahun ini jangan sampai kita lewatkan begitu saja. Kita harus mampu dan mau memanfaatkan kesempatan ini dengan semaksimal mungkin. Kita tanamkan dalam hati dan pikiran kita bahwa Bulan Ramadan tahun ini adalah Bulan Ramadan terakhir kita, sehingga bisa maksimal mengisi Bulan Ramadan kita dengan banyak beramal shaleh dan menjauhi bermaksiat kepada Allah Swt.

Jangan sampai Bulan Ramadan yang didalamnya ada perintah menunaikan ibadah puasa itu hanya bernilai puasa yang menahan lapar dan dahaga saja. Sedangkan mulut kita, mata kita, telinga kita serta perilaku kita belum berpuasa. Maksudnya adalah kita puasa, tapi masih ghibbah (bergosip), kita puasa tapi mata kita masih senang memandang yang dilarang. Kita puasa, tapi telinga masih suka mendengarkan sesuatu yang bukan hak kita. Dan kita puasa, tapi masih gemar bermaksiat kepada Allah Swt.
Padahal puasa yang kita kerjakan setiap bulan Ramadan mengajarkan cara bagaimana menyucikan hati, sehingga setiap orang yang menjalankannya diharapkan memiliki perasaan, pikiran dan tindakan yang positif. Selain itu pula, puasa mengajarkan cara bagaimana menjadi orang baik dan orang sukses, sebab orang yang menjalankan puasa hidupnya akan fungsional, selalu mempertimbangkan hadirnya makna dan nilai dari setiap apapun yang dimiliki dan dijalankannya, dan selalu berusaha agar hidupnya tidak menjadi beban namun memberi manfaat bagi yang lainnya.
Puncak dari target hidup setiap Muslim adalah menjadi orang yang bertaqwa, dan puasa yang dijalankan oleh setiap Muslim bertujuan untuk mencetak pribadi-pribadi yang bertaqwa. Seperti yang Allah jelaskan dalam Alqur’an surat al-Baqarah ayat 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Lantas muncul pertanyaan, mengapa tujuan puasa itu adalah taqwa, bukan yang lainnya? Maka jawabannya adalah karena taqwa adalah akumulasi dari kebajikan-kebajikan, etika, moral, spiritual dan keseluruhan upaya menuju kebajikan yang holistic baik berdimensi individual, social dan universal. Dan yang menjadi inti taqwa adalah kemampuan “membentengi diri” untuk terhindar dari hal-hal yang dilarang Allah dan menjalankan semua hal yang diperintahkan-Nya. Jika esensi taqwa yang semacam ini dapat direalisasi, maka akan menghadirkan pribadi-pribadi yang memiliki prestasi peradaban.
Wujud dari pribadi yang memiliki prestasi peradaban itu adalah sosok pribadi yang sukses, seperti yang Allah gambarkan dalam surat Ali Imran ayat 133-134, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Mari kita perbanyak amalan-amalan yang dicontohkan Rasul Muhammad saw. Dan secara istiqomah kita berbuat sesuatu yang memberi manfaat lebih kepada orang lain. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang meraih kemenangan sejati, bukan termasuk ke dalam barisan orang-orang yang kalah seperti yang disindir Rasulullah saw, sebagai orang yang tidak memperoleh apapun dari puasa kita, banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

Berita Lainnya :