Hanyut Bershalawat, Aviza Mantap Baca Syahadat


MALANG - Pengajian bulanan di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfirah berlangsung istimewa, Minggu (10/3). Terasa lebih khidmat. Di tengah-tengah acara, seorang pria berpeci hitam mengungkapkan keinginannya untuk menjadi mualaf, menjadi orang Islam.
Pengajian itu berlangsung mulai pukul 09.00 di masjid Ponpes tersebut. Sejam kemudian menggema shalawat di ruangan masjid. Sama seperti jamaah lainnya, pria itu nampak hanyut dalam shalawat yang disenandungkan oleh ratusan santri dengan merdu. Ia sangat tenang sekali sambil memejamkan mata menikmati irama shalawat. Ruangan masjid bergema penuh pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Ada jeda, MC tiba-tiba memanggil namanya. Pria ini melangkah ke hadapan para pengasuh Ponpes yang berada di depan. Waktu baginya telah tiba. Dengan penuh keyakinan, ia mulai mengikuti tuntunan pengasuh Ponpes Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Bisri, MS. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan, tanpa ragu-ragu, ia mengucap kata demi kata dengan mantap.
Tampak begitu mudah dilalui, pria itu akhirnya resmi menjadi mualaf. Ia resmi memeluk Agama Islam. Suasana penuh syukur memenuhi seisi ruangan saat pria bernama Aviza Vianny Hiling ini mengucapkan dua kalimat syahadat.
Pengucapan tersebut merupakan pertanda bahwa Aviza resmi memeluk agama Islam. Sontak, para hadirin yang datang serentak mengucap Alhamdulillah sebagai rasa syukur dan bahagia.
Seusai acara, kepada Malang Post Aviza membagikan kisahnya. Ia masuk Islam karena keinginan pribadi dan tanpa paksaan siapapun. Aviza memiliki sanak keluarga yang beragama Islam. Namun, pilihannya masuk Islam bukan karena didesak dan mengikuti jejak keluarganya.
 "Sejak SMA saya sudah tertarik menjadi muslim (beragama Islam). Itu semua karena keinginan pribadi tanpa ada paksaan," terang Aviza yang berumur 25 tahun ini.
Ia mengatakan bahwa sangat lega telah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya Aviza ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi muslim yang taat.
Pengasuh Ponpes, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Bisri, MS, mengatakan bahwa dalam proses yang ditempuh Aviza ini, Ponpes memberikan syarat administrasi khusus.
"Syaratnya membuat pernyataan tertulis, untuk melindungi  Aviza. Karena di dalam surat pernyataan ada tanda tangan para saksi dari pengasuh ponpes," terang pria yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Brawijaya (UB) ini.
Pria yang akrab dipanggil Gus Bisri ini mengatakan, bahwa Aviza telah mendapatkan hidayah. ia berharap apa yang telah dilakukan oleh Aviza menjadi teladan bagi semua orang, agar berani menentukan pilihan tanpa paksaan.
Setelah prosesi mualaf, pengajian diisi ceramah oleh KH. Ghoziadin Djupri. Dalam ceramahnya, ia mengajak para hadirin untuk meningkatkan keimanannya dengan memperbanyak membaca Alquran.
"Kita harus perbanyak baca Alquran. Setelah itu juga harus dipahami artinya," kata KH. Ghoziadin Djupri. "Sesudah perbanyak baca dan memahami Alquran yang paling penting lainnya adalah mengamalkannya," tutur KH. Ghoziadin Djupri.(mg2/ary)

Berita Lainnya :