Belajar Tiga Bulan, ‘Santri’ Napi Diwisuda Jadi Guru Alquran


 
MALANG - Sekitar 20 Februari 2018 lalu, sebanyak 33 santri yang berasal dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) diwisuda sebagai guru Alquran, setelah berhasil lolos dalam pembelajaran selama 3 bulan. 
Bekerjasama dengan MUI Kota Malang, Lembaga Amil Zakat, Yayasan Amal Sosial Ash Shohwaha (YASA Malang) dan UMMI Foundation, Lapas Klas I Malang mendidik sebanyak 251 WBP yang sudah terseleksi untuk menjadi santri di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taubah yang ada di dalam Lapas. 
Sebelum menjaring santri, pihak Lapas Klas I Lowokwaru Malang melakukan beberapa seleksi dan assesment bagi para santri. Dari sekitar 251 santri yang ada, kembali diseleksi. Dengan kemampuan baca tulis Al Quran kembali disaring menjadi 57 orang, diseleksi lagi menjadi 40 orang dan terakhir terpilihlah sebanyak 33 orang santri yang berhasil diwisuda.
Nantinya, santri tersebut mendapat sertifikat dan diakui secara nasional. “Izin pendirian Ponpes kami juga sudah diakui oleh Kemenag Kota Malang,” kata Kepala Lapas Klas I Lowokwaru Malang, Farid Junaidi.
Farid Junaidi mengatakan, para WBP yang menjadi santri berasal dari macam-macam kasus. Mulai dari narkoba, pembunuhan dan lain-lain. Hal tersebut merupakan salah satu bukti kerja keras Ponpes menjalankan kurikulum yang ada.
“Ini juga sebagai tindak lanjut dari Ponpes yang kami dirikan tahun lalu. Target kami, setidaknya separuh dari jumlah WBP yang ada mampu menjadi santri disini,” jelas dia.
Farid mengungkapkan, nantinya, para santri yang sudah berhasil lulus mampu menjadi guru mengaji Alquran bagi para WBP lain. bahkan, juga bisa dijadikan guru  ngaji untuk masyarakat luas ketika sudah bebas nanti.
“Ketika masuk lapas, mereka sudah mempunyai bekal dan dasar keagamaan, bukan dari nol. Sehingga, kami membantu untuk memperdalam kembali. Selama tiga bulan, mereka mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh,” beber dia.
Salah satu santri, Roni Kurniawan yang dulunya tak tahu sama sekali soal pelajaran agama. Pria yang dipidana akibat narkoba ini awalnya tidak bisa membaca Alquran sama sekali. Selama setahun, dia belajar agama termasuk membaca Alquran dari tingkatan Iqra hingga khatam. 
Dia mengaku, tidak memiliki motivasi khusus untuk mengikuti kegiatan keagamaan di Pesantren At Taubah. Dia hanya berusaha mendekatkan diri pada Allah SWT dengan mempelajari ilmu-ilmu agama selama di balik jeruji. Dari usahanya ini, tak heran Roni kini dipercaya untuk mengajarkan baca Alquran pada rekan santri lainnya.
"Ya memang ada hidayah ke sana untuk menjadi lebih baik. Saya yang tadinya tidak bisa mengajar Alquran jadi dapat mengajar di sini," pungkas dia. (tea/udi) 

Berita Lainnya :