Nenek 59 Tahun Perankan Remaja, Lupa Dialog Malah Lucu

 
Usia tak menjadi penghalang seseorang untuk berkarya. Itu yang ditunjukkan perempuan-perempuan usia sepuh yang tergabung dalam Komunitas Cinta Berkain Indonesia Malang Raya (KCBI MR), yang dengan piawai berlakon dalam pertunjukan fragmentari Jaka Kendil yang digelar di Hotel Santika beberapa waktu lalu. 
Di panggung, para pemain  yang sudah tidak muda ini all out memainkan perannya masing-masing. Mereka tidak hanya mampu berlakon sesuai skenario, tapi juga mampu melakukan improvisasi dialog yang makin membuat pertunjukan segar dan mengundang tawa serta aplaus penonton.  
“Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” kata Rien Bustami salah satu pemain.
Perempuan 58 ini menceritakan, ide pertunjukan fragmentari pertama kali muncul  dari rekan-rekannya di KCBI MR. Mereka ingin, HUT ke 2 komunitas ini dikemas  berbeda dengan tahun sebelumnya.
Usulan fragmentari pun kemudian diwujudkan dengan mengundang dosen Univeritas Negeri Malang Suryo Wido Winarto untuk menjadi sutradara pertunjukan tersebut. Saat itu, dia langsung menunjuk  17 anggota KCB MR untuk berperan pada fragmentari Jaka Kendil.
“Dari 17 itu salah satunya saya,” kata Ketua Koordinator KCBI Kecamatan Lowokwaru  ini. Rien mengaku kaget saat dia ditunjuk. Terlebih saat Suryo memilih dia sebagai Adipati. 
“Lha waktu itu saya tidak membayangkan akan berperan sebagai laki-laki. Aneh bagi saya,” ucapnya. 
Namun dia  kian tertantang dengan peran itu, karena bahasa yang digunakan dalam fragmentari adalah bahasa Jawa.
“Lha saya ini asli Madura. Kemudian diminta berbahasa Jawa. Tapi saya tidak menyerah, dialog yang diberikan terus saya pelajari untuk bisa memberikan pertunjukan terbaik,” ungkap Rien yang mengatakan terus berlatih di rumah. 
Tidak sekadar menari dan berlatih gerak. Rien juga berlatih vocal.
“Saya harus bersuara berat, karena kan berperan jadi laki-laki. Ini agak sulit, tapi alhamdulillah karena sering latihan, saya bisa bersuara berat,” katanya.
Di kehidupan nyata, Rien merupakan ibu rumah tangga biasa, istri dari dr Hendro Santoso. Namun Rien cukup aktif dalam beragam kegiatan, lantaran itulah, dia mengaku tak bisa datang rutin saat latihan. 
Rien sendiri mengaku tak memiliki background bermain seni peran. Terlebih menari. Itu sebabnya, dia mengaku kesulitan saat awal berlatih. Beruntung sang sutradara memahami kondisi tersebut. Dengan arahan tangan dingin Suryo, Rien pun akhirnya mantab bermain.
“Karena harus menghafalkan gerakan, juga dialog, ini yang sulit. Beda dengan kehidupan nyata. Bermain fragmentari juga harus ada penghayatan, agar yang diperankan pun betul-betul bagus,” ungkapnya. 
Saat di panggung, Rien mengaku sebenarnya beberapa kali lupa dialog. Alhasil dia pun terpaksa mengucapkan kalimat berbahasa Madura, agar kelupaannya itu menghibur.
“Duh boremah, tak oneng nak kanak. Buh abuh,” kata Rien dalam dialog dia sebagai Adipati, saat melihat anaknya Purbosari meminta doa restu untuk menikah dengan pria berpenampilan jelek. 
Rien pun berteriak “todik tongpes” saat Purbosari tetap memaksa untuk menikahi pria tersebut. “Buh abuh, todik tongpes,” teriaknya. 
Alhasil, semua yang ada di ruangan hotel pun tertawa dengan kelucuan Rien saat itu.
Sementara kendati sama-sama saling memberikan dukungan dan support, tapi pada kenyataannya tak mudah mengumpulkan 17 pemain ini datang bersama-sama. Bahkan kata Suryo, dari sekian kali latihan, tak sekalipun formasinya lengkap. Saat latihan yang datang hanya beberapa saja.
Tapi, kondisi itu tak membuat Suryo patah semangat. Dia berusaha melatih para pemain agar tampil baik. “Praktis latihannya hanya sekitar dua bulan saja. Itu pun setiap kali latihan tak pernah lengkap. Dan yang kerap terjadi, ibu-ibu ini datang latihan tapi kondisinya kelelahan, sehingga tak maksimal latihan,” kata Suryo.
Dia mengaku cukup kesulitan melatih sebab para pemain tak memiliki basic dalam hal seni tari maupun drama. Tapi dengan kesabarannya, didukung dengan semangat para pemain, pertunjukaan itu sukses digelar.
“Saat itu saya bilang kepada pemain, boleh mengembangkan dialog, tapi tak boleh menyimpang dari cerita,” tambahnya. 

Berita Terkait

Berita Lainnya :