Prof. Janggan: Pelari Tergantung METs Harus Rutin Cek Fisik


Olahraga lari semakin populer dan menjadi gaya hidup semua kalangan. Hanya saja, ada risiko yang mengintai di kegelapan dan siap mengklaim banyak nyawa. Malang Post, menggelar diskusi bersama komunitas pelari, atlet master, trainer hingga dokter jantung dan dokter olahraga. Tema yang diangkat bertajuk Lari Sehat Minim Risiko.
Dalam diskusi di Graha Malang Post Jalan Raya Sawojajar ruko WoW cluster Apple nomor 1-9, Jumat lalu, Malang Post Forum menghadirkan peserta dari berbagai perspektif. Komunitas Lari Malang Raya (Kolamara), Persatuan Atlet Master Indonesia (PAMI), Free Runners, Active Movement, Running Goal Oriented (RGO) hadir dalam diskusi.
Tak lupa pula, dua dokter spesialis hadir untuk menggagas diskusi tentang lari sehat. Yakni, Prof. Dr. dr H. Djanggan Sargowo SpPD,SpJP(K), FIHA., FACC, dokter spesialis konsultan jantung dari RSSA Malang. Serta, dr Nanang Tri Wahyudi SpKO, dokter spesialis olahraga satu-satunya di Jawa Timur, yang juga dokter tim Arema FC.
Diskusi dipandu oleh Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Malang Post, Hj Dewi Yuhana, Kolamara diwakili oleh M. Syah Rizal, Ahmad Sholeh dan Armanda. Sementara, Free Runners datang dengan perwakilan bernama Senja, Sandie, Randa Asri dan Yunifan. Christin Mutia, juara 2 marathon 42K di Surabaya Marathon, ikut hadir dalam diskusi.
PAMI, menghadirkan beberapa nama. Yakni, Suwandi, Sulistiani, Supardi dan Ismail S. Ketua ISSI Kota Malang Sumardi Mulyono yang seorang penghobi lari, juga menghadiri diskusi tentang lari sehat minim risiko. Dalam membuka diskusi, Hana, sapaan akrab Pemred MP, menyebut diskusi adalah untuk mengupas pentingnya wawasan soal lari, dan meredam semua risiko.
“Semoga dengan diskusi ini, masyarakat bisa memahami semua risiko olahraga lari, dan melakukan antisipasi agar tetap bisa berolahraga serta mendapatkan manfaat bagi kesehatan tubuh,” jelas Hana. Dalam paparannya, Hana menegaskan bahwa olahraga lari adalah gaya hidup yang kian mewabah di Indonesia.
Dulu, olahraga lari hanyalah untuk para atlet. Sekarang, semua kalangan, pekerja, pengusaha, PNS, remaja, bahkan orangtua, menggilai olahraga lari. Tren marathon yang menjamur dengan begitu banyak jumlah peserta masih belum mereda. Terbukti, event marathon yang baru digelar di Surabaya.
Diestimasi, ada 6.000 peserta yang mengikuti lomba marathon tersebut. Masih tingginya animo terhadap olahraga lari diakui oleh Sumardi. Pria yang juga Sekretaris Dinas PUPR Kota Malang itu menyebut, tren lari sebagai gaya hidup, merangkak populer tahun 2012, dan meroket di tahun 2014 sampai sekarang.
Meskipun menghobi lari sejak era 2000-an, Mardi menyebut ada perbandingan yang kontras antara animo olahraga lari pada awal milenium, dengan animo hari-hari ini. “Dulu, tahun 2004 sampai 2008, lari maraton hanya diikuti 10-15 orang. Sekarang, jumlah pesertanya bisa mencapai ribuan,” ujar Mardi.
Meski belum jelas siapa yang mengawali tren ini, namun media sosial menjadi alat yang berperan besar meroketkan olahraga lari. Ditambah pula, habit para penghobi lari, yang pamer jarak lari lewat smartband, hingga memamerkan medali finisher marathon di media sosial. Unggahan seperti ini, bermunculan di explore Instagram.
Mardi sendiri tidak memakai cara ini untuk menikmati olahraga lari. “Karena, saya ini cuma penghobi. Sehingga, saya lari sesuai batas kemampuan diri saya, tidak memaksakan diri. Yang penting saya sehat. Olahraga lari itu kan olahraga mengalahkan diri sendiri. Sehingga, harus tahu batas,” terangnya.
Paksaan untuk berolahraga itu baik, selama ada batasnya. Namun, jika pelari selalu dituntut melebihi batas kekuatan diri, dalam hal ini jantungnya, maka kasus pelari meninggal dunia berpotensi untuk selalu terjadi. Media sosial, memang dari sisi lain, memacu orang untuk berolahraga, dan membangun budaya positif dalam rajin berolahraga.
Tapi, di sisi lain, batas kekuatan diri, yang mungkin saja kabur dan belum jelas, menjadi risiko bagi seorang olahragawan atau sekadar penghobi olahraga. Selain faktor media sosial, adrenalin ketika berlari bersama di acara olahraga marathon atau lari komunitas, juga ikut meningkatkan risiko saat berlari.
Ahmad Sholeh, dari Kolamara, menyebut bahwa olahraga lari itu adalah olahraga yang menyenangkan. Namun, acapkali keinginan untuk menyamai teman sesama pelari, mendorong seseorang ngotot berlari. Atau, riuh redam acara marathon, tepuk tangan dan euforia yang membuat seorang pelari memburu finish, tanpa memperhitungkan risiko diri.
“Kadang kan memang faktor emosi, tidak mau kalah, ingin menyamai teman sesama pelari. Itu kan memacu adrenalin. Kadang, ada pelari yang baru, memaksakan untuk menyamai pelari yang sudah senior,” ujar Sholeh. Padahal, hal ini sangat berbahaya. Karena, tiap orang memiliki batas dan kemampuan masing-masing, terutama dalam hal olahraga lari.
Prof Djanggan yang hadir dan memaparkan soal kesehatan jantung, membuka banyak wawasan yang bisa dipegang oleh para penghobi lari, atau olahragawan. Menurut Djanggan, olahraga lari, adalah olahraga vigorous, yang memacu jantung untuk beroperasi secara maksimal dalam jangka waktu tertentu.
Olahraga vigorous, bergantung pada METs, yakni metabolic equivalents, ukuran energi hasil metabolisme tubuh dari aktivitas fisik. Setelah itu, ada kadar volume oksigen maksimal atau dikenal dengan istilah VO2Max. Total VO2Max, mempengaruhi kekuatan jantung dalam mendukung aktivitas olahraga.
“Sebut saja, VO2Max seseorang adalah 65 ml.kg.min, itu setara dengan 18,5 MEts. Dengan jumlah ini, seseorang bisa berlari dengan kecepatan 15 kilometer per jam,” ujar Djanggan.
Kadar VO2Max setiap orang, berbeda-beda. Jantung itu ibarat mesin motor. Mesin 100 cc, tidak mungkin dipaksa memacu kecepatan yang sama dengan mesin motor 200 cc.
Namun, olahraga dengan penggunaan lebih dari 12 Mets, berpotensi mengalami cardiac arrest dan sudden death. Olahraga lari, tenis, sepak bola, futsal dan banyak olahraga lain, hampir pasti menghabiskan lebih dari 12 Mets. Sehingga, potensi atlet untuk mengalami sudden cardiac death tetap besar.
Djanggan pun menyanggah anggapan bahwa atlet sebagai orang yang sehat. Karena, justru merekalah yang berpotensi terkena serangan jantung karena aktivitas fisik memacu jantung bergerak super cepat.
“Ada kasus atlet sepak bola terkenal di era dahulu, tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal setelah heading ke gawang lawan. Berbeda dengan catur yang masuk olahraga light, atau olahraga golf yang moderate, lari, tinju hingga sepak bola, termasuk olahraga vigorous,” tandas Djanggan.
Lalu, bagaimana dengan para pelari yang selama ini hanya sekadar lari, tanpa mengetahui batas diri sendiri, dan kekuatan jantungnya? Bagaimana cara agar semua orang bisa lari sehat minim risiko? Djanggan mengimbau, dan mewanti-wanti para pelari untuk memulai pemeriksaan fisik untuk mengetahui riwayat penyakit dan evaluasi dari dokter.
Bagi pelari yang ingin ikut marathon, bisa melakukan rekam jantung dan USG jantung, atau memakai banyak cara seperti atlet screening treadmill. Dengan begitu, seorang pelari bisa mengetahui, dirinya siap atau tidak untuk mengikuti sebuah lomba marathon, dan tahu sejauh apa batas kekuatan dirinya.(Fino Yudistira/bersambung/ary)