Kritis-Historis Tradisi Lisan Kesejarahan Islam Daerah Batu (2)


MASA hidup Mbah Batu pada sekitar abad XIX, atau paling tua abad XVIII. Demikian pula dengan Bambang Selo Utomo, tidak tepat jika dinyatakan bahwa masa hidupnya sekitar abad XV, sebab konteks waktu peristiwa yang dikisahkan adalah masa Mataram. Mereka berdua dengan demikian hidup pada Periode Perkembangan Islam. Oleh karena itu, lebih tepat bila Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo dinyatakan sebagai tokoh yang berjasa mengawali syiar Islam, khususnya di sub-area Batu Utara, baik di Desa Bumiaji maupun Punten.

Eyang Djugo Dakwah dengan Tembang Mocopat


PESAREAN Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kabupaten Malang menjadi tanda penyebaran Islam di era Pangeran Diponegoro. Pesarean tersebut yakni makam Kiai Zakaria II atau yang lebih familiar dikenal dengan Mbah atau Eyang Djugo dan muridnya RM Iman Soedjono. Mereka membawa dampak besar dalam penyebaran Islam, terutama melalui sektor pertanian dan kesenian.
Berdasarkan penuturan Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi, Tjandra Jana, penyebaran Agama Islam ke wilayah Gunung Kawi berawal dari Kesamben. Setelah itu, bergerak ke timur melintasi lereng Gunung Kawi ke daerah Wonosari.

Kritis-Historis Tradisi Lisan Kesejarahan Islam Daerah Batu


Sumber data sejarah yang berkenaan dengan kesejarahan Islam di daerah Batu tidak cukup banyak. Selain sejumlah situs makam Islam kuno, sumber data tentang itu kedapatan dalam bentuk tradisi lisan (oral tradition). Yaitu legenda lokal, yang beberapa di antaranya diliteralisasikan. Dua di antaranya yang cukup dikenal adalah legenda Mbah Mbatu dan Pangeran Rohjoyo, terkait dengan babat Desa Bumiaji; serta legenda Bambang Selo Utomo, terkait dengan babat Desa Punten.

Berita Terkait

Berita Lainnya :