Ukuran Sebuah Kewarasan

Judul : Orang-Orang Gila
Penulis : Han Gagas    
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : Pertama, Februari 2018  
Tebal : viii + 256 halaman
Isbn : 978-602-1318-45-4

Peresesnsi : Mufa Rizal, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya


Ada yang bilang, antara jenius dan gila itu beda tipis. Banyak ilmuwan jenius harus merasakan dianggap gila oleh orang sekitarnya karena mempunyai pemikiran aneh atau tidak bisa diterima masyrakat. Butuh waktu bertahun-tahun atau lebih sebelum apa yang disampaikan si ilmuwan diakui sebagai hal jenius yang pernah diciptakan. Sebut saja Nikola Tesla dianggap gila karena teori-teorinya yang tidak masuk akal, juga karena kebiasan aneh yang ia lakukan sehingga disebut ilmuwan gila.
    Lantas seperti apakah ukuran sebuah kewarasan? Apa orang-orang normal yang tak punya kelebihan dan menjalani kehidupan secara biasa saja. Atau, malah orang-orang yang mempunyai pemikiran di luar masyarakat umum.
    Novel Han Gagas yang berjudul “Orang-orang Gila” berusaha menceritakan persoalan tersebut dengan segala faktor juga anggapan masyarakat tentang orang gila. Diceritakan dua orang tokoh utama bernama Marno dan Astrid yang mengalami trauma akibat hal buruk di masa kecil. Marno yang ditinggal oleh ibu juga ayahnya diculik karena dianggap komunis, hidup sebatang kara mencari ibunya. Wajahnya yang buruk juga terdapat bengkak membuat orang-orang semakin enggan mendekat, menganggapnya idiot dan gila setelah Marno tertawa keras di ujung jalan. 
    Berjalannya waktu Marno pun masuk penjara akibat melukai juga membunuh orang-orang yang mengatainya gila. Ia menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama beberapa waktu, sebelum keluar. Dalam perjalanan hidupnya Marno sempat dianggap sakti oleh masyarakat karena bisa membaca mimpi orang-orang.
Esoknya berita menyebar cepat, Marno bisa meramal mimpi. maka berbondong-bondong datang orang-orang yang ingin mimpinya diramal. Mereka percaya kalau ramalan Marno cespleng. Tampaknya cahaya rembulan yang dulu merasuk jiwa Marno membuatnya awas melihat pertanda.
“Semalam saya bermimpi tengah ada pesta besar-besaran, banyak makanan lezat tersaji, wuih saya makan lahap sekali, enak betul rasanya,” kata seseorang tetangga yang menemuinya di bedeng kolong jembatan, dia datang bersama tetangganya.(Hal. 72)
Tak jauh beda dengan Marno, Astrid pun mengalami hal yang tak kalah tragis. Ia kehilangan keluarganya setelah kereta api menabrak keduanya. Astrid jadi mengurung diri di rumah, hikikomori, menarik diri dari kehidupan sosial. Ia sering marah dan tertawa sendiri ketika melihat kererta api juga tetangga yang mengambil mangga di pekarangannya.
    Hal tersebut belum ditambah ketika ia diperkosa oleh sekelompok orang yang menyusup ke rumahnya untuk merampok juga tetangga yang akhirnya mengambil rumah Astrid. Ia pun berkeliaran di jalan dan diculik tiga orang tak dikenal. Mereka berniat menjualnya ke mucikari bernama Tante Lisa. Sebelumnya mereka memerkosa Astrid bergiliran setelah dimadikan. Melihat hal itu astrid yang diiikat ditambang mencoba melarikan diri dan membalas dendam. Ia hampir berhasil sebelum salah satu dari mereka melumpuhkannya dan polisi datang. Astrid di penjara untuk beberapa saat sebelum ditebus oleh Tante Lisa. Di sana ia menjalani hidup sebagai pelacur. 
Astrid tinggal di ruangan terbaik yang pernah ia lihat. Sebuah kamar dengan kasur yang empuk berseprai lembut, kaca cermin dengan alat rias, televisi kecil di atas meja, di sampingnya ada air mineral dalam botol serta kaleng biscuit. Semua tersedia dengan lengkap. Beberapa minggu kemudian dalam asuhan tangan kanan Tante Lisa itu, Astrid telah menjadi pelacur muda yang professional. Kerjaannya hanya menunggu di kamar itu, menanti lelaki hidung belang datang(Hal. 43)
Membaca Novel ini mengingatkan akan novel karangan Murakami berjudul 1Q84 yang memiliki dua orang tokoh, Aomame juga Tengo yang memiliki porsi yang sama untuk bercerita. Selain berkisah tentang orang gila, novel ini juga mengangkat sejarah, politik juga isu sosial yang dekat dengan masyarakat. 

Berita Terkait

Berita Lainnya :