Tabir Kota Tua dalam Pararaton


Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono mengatakan, penemuan Situs Sekaran berkaitan dengan kota kuno di wilayah Malang timur atau disebutnya sebagai Ancient City. Penemuan situs itu seperti membuka tabir rahasia kota kuno seperti yang disebutkan dalam Pararaton.
Dalam kitab itu disebutkan ada sebuah kota tua yang terletak di lereng Gunung Buring. Kota itu bernama Kabalon, sebuah daerah yang dikenal sebagai sentra pengrajin emas. “Bahkan dalam kitab Pararaton disebutkan Ken Arok pernah menolong Mpu Palot yang pulang dari Kabalon ke Turyantapada,” ungkapnya.
Sedangkan Situs Sekaran berada di lereng Gunung Buring. Ken Arok pernah belajar di Kabalon namun dia tidak dipercaya oleh warga Kabalon. Lantas ia pergi ke Tugaran. Letak Tugaran hanya tiga kilometer dari Situs Sekaran.
Dalam Kitab Pararaton pula dijelaskan, lanjut Dwi, berkisar antara abad 14, kawasan Kabalan merupakan tempat tinggal Putri Hayam Wuruk yakni Kusuma Wardhani. Hal ini berkaitan dengan apa yang dijelaskan Wicaksono sebelumnya, jika Situs Sekaran diprediksi merupakan kompleks hunian raja-raja dan keturunannya. Dikatakannya situs ini diduga menunjukkan pola pemukiman masyrakat lembah sungai.
“Karena di sana dilalui Sungai Amprong. Kawasan ini pun kami duga menunjuk pada pemukiman jika ditarik dari kawasannya yang memiliki kata ‘puro’ yang berarti kota. Kemungkinan Sekaran menjadi tempat pemukiman yang tidak terlalu padat,” kata dia.
Situs Sekaran merupakan area pemukiman seiring dengan toponimi area situs.
Dwi mengatakan jika sebelumnya sudah mempelajari area wilayah Malang Timur. Itu seiring dengan adanya persamaan nama wilayah. Yaitu Madyopuro, Lesanpuro, Sekarpuro dan Ngadipuro.
"Ngadipuro adalah nama dusun, yang terpecah dua. Yaitu Ngadipuro Lor ikut Desa Sekarpuro, sedangkan Ngadipuro Kidul ikut wilayah Madyopuro, Kota Malang," katanya.
Berdasarkan toponimi tersebut, Dwi pun membuat pola untuk wilayah Malang Timur.  Yaitu manca lima atau empat plus satu. Empat sesuai mata angin dan satu berada di tengah atau menjadi sentrum.
"Tengah adalah Madyopuro. Karena dari namanya madyo dari bahasa lama adalah pusat, sedangkan puro adalah kota," ungkapnya. Sementara di sebelah utara adalah Desa Sekarpuro. Dia mengatakan nama sekar sendiri diambil sebagai kata lain bunga. Dimana wilayah tersebut dulunya bisa diartikan sebagai taman, sedangkan sebelah selatan adalah Lesanpuro, yang menjadi pintu gerbang kota. Dusun Ngadipuro, yang ada di lereng gunung.
Dugaan bahwa wilayah Malang timur merupakan area pemukiman, dikuatkan dengan aliran Kali Amprong, yang menjadi sumber kehidupan. Berbagai temuan sejarah lain, di antaranya Situs Gribig di Kelurahan Lesanpuro, makam di Madyopuro dan Sekarpuro, serta temuan-temuan lainnya.
"Temuan-temuan itu menguatkan hipotesa saya, apakah di wilayah Malang timur itu ada jejak kota," kata Dwi. Kini lebih menguatkan lagi dengan temuan Situs Sekaran. (ica/ira/van)

Berita Lainnya :