Struktur Situs Sekaran Mirip Puri Tabanan


PERNAH melihat atau berkunjung ke kawasan Puri Tabanan di Bali? Sebuah kawasan yang disucikan karena dahulunya merupakan kediaman Raja Tabanan. Struktur Puri Tabanan dikelilingi gapura-gapura unik bergaya paduraksa. Menariknya, struktur tersebut mirip seperti yang ditemukan di Situs Sekaran.
“Kami menemukan struktur gapura. Ini mirip seperti gapura yang ada di Bali,” ungkap Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho. Dalam proses ekskavasi, memang menemukan semacam struktur gapura. “Mirip seperti gapura yang ada di Bali,” ujarnya.
Dugaan kuat Wicaksono itu berdasarkan sejumlah fakta. Di antaranya ukuran lubang gapura. Ukuran dari sisi ke sisi gapura (lubang masuk dan keluar,red) memiliki ciri ukuran yang sama seperti di Bali.
Pria yang akrab disapa Coi ini mengatakan,  lubang tersebut memiliki lebar kurang lebih 82 cm. Melihat ukuran lubang gapura, ia kembali meyakinkan jika struktur gapura yang ditemukan bukan gapura biasa. Namun bergaya paduraksa.
“Gapura Paduraksa bisa kita lihat di puri-puri di Bali, khususnya Puri Tabanan,” jelasnya.
Berdasarkan analisa tersebut,  Wicaksono meyakini jika struktur gapura ini dapat membawa penemuan lebih dari yang diperkirakan. Gapura Paduraksa menunjukkan sebuah kompleks hunian elit kalangan raja ataupun bangsawan.
Karena itulah Situs Sekaran berpotensi lebih besar jika dilakukan ekskavasi lebih luas. Saat ini, lanjut Wicaksono, pihaknya sudah membuka sekitar 1.760 meter persegi luasannya. Sementara potensi luasan situs dilihat dari polanya bisa mencapai dua kali lipat yakni 3.550 meter persegi. Prediksi luasan ini berkaca pada struktur puri di Bali. Seperti penemuan struktur dari jejeran tumpukkan bata lurus panjang,  yang diperkirakan dinding pembatas kawasan situs.
“Karena kami juga menemukan seperti jalur bata yang seperti mengelilingi. Akan tetapi ada bagian yang terputus karena sudah tergerus tanahnya, kemungkinan longsor. Tapi ketika kami tarik garis lurus dari bagian yang hilang itu, bisa nyambung ke bagian bata yang masih tersisa,” jelas Wicaksono.
Dikatakan pula jika orientasi bangunan atau struktur situs ini menghadap ke arah laut, bisa dikatakan miring menghadap arah sungai.  Wicaksono kembali memberikan analisanya berdasarkan paduraksa yang membawanya pada analisa kompleks hunian. Hal ini dikatakannya sangat penting untuk kembali dipelajari dan ditemukan polanya.
“Karena jika kita lihat dari atas, bekas bata-bata ini sudah membentuk semacam kompleks sebuah hunian. Ada gapura, lalu masuk sedikit dari sana ada bekas-bekas seperti ruangan hunian. Ini penting diketahui,” papar pria ramah ini.
Dari hasil temuannya saat ekskavasi, mengungkap lebih dalam. Apa yang ada di dalam Situs Sekaran penting bagi ilmu pengetahuan. Pasalnya hingga saat ini, belum ada temuan yang dapat mengungkap pola ruangan pada hunian di era kerajaan dulu.
Diperkirakan pula, Situs Sekaran berasal dari kehidupan pada abad ke 10 hingga ke 14 alias masa Pra Majapahit. “Ini dilihat dari ukuran besaran bata seperti struktur tumpukkan bata di Situs Trowulan. Didukung juga dengan temuan lain yang menguatkan,” papar pria yang juga Koordinator Ekskavasi Situs Sekaran ini.
Temuan lain yang menguatkan yakni dari fragmen dan mata uang China. Didominasi dari masa Dinasti Song (yang berjaya pada abad 10 sampai 14). Meski begitu ada pula mata uang China yang juga berasal dari mata uang Dinasti Han dan Ming. Dapat dilihat dari ukiran-ukiran dan bahan pembuatnya.
Dugaan sementara, Situs Sekaran sejak Singhasari atau Ken Arok. Mengacu pada Pararaton, berada di wilayah Nagari Kabalon, hingga di wilayah Tugaran, yang kini menjadi Tegaron di kawasan Lesanpuro, Kota Malang.
Meski begitu ia mengakui jika analisa tersebut hanya hipotesa. Tentu ini masih membutuhkan temuan lain untuk memperkuat berbagai dugaan. (ica/ira/van)

Berita Lainnya :