Situs Sekaran Sungguh Luas, Sepakat DiLestarikan


MALANG - Seluruh stakeholder setuju Situs Sekaran dijaga dan dilestarikan. Hal itu menjadi ruh rapat koordinasi yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Selasa (19/3) kemarin. Hadir pula Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jatim, PT Jasa Marga Pandaan Malang serta komunitas dan pemerhati budaya.
"Kami sebagai warga Desa Sekarpuro ingin situs itu di jaga dan dilestarikan. Selain menjadi benda cagar budaya, situs ini juga dapat menjadi daya tarik wisatawan, untuk datang ke Desa Sekarpuro, Pakis," urai Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto, saat menyampaikan pendapat dalam rapat koordinasi yang digelar di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang tersebut.
Dalam rakor masing-masing pihak yang mendapatkan kesempatan berbicara, langsung meminta bahwa situs yang berada di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis dilestarikan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Restu Respati, anggota komunitas Jelajah Jejak Malang. Dia tak hanya mengatakan setuju Situs Sekaran ini dijaga dan dilestarikan. Tapi dia juga siap membantu ekskavasi lanjutan setelah jadwal ekskavasi yang dilakukan BPCB selesai.
Ya, ekskavasi yang dilakukan tim BPCB akan berakhir pada Kamis (21/3) mendatang. Namun dapat dipastikan ekskavasi belum selesai. Sehingga tim dari BPCB meminta tim dari Disparbud, Kabupaten Malang yang melanjutkan. Hanya saja, saat melakukan ekskavasi nanti, tetap harus didampingi oleh pegawai dari BPCB.
Sementara itu, Kepala BPCB Jatim Andi Muhammad Said mengatakan, proses ekskavasi sudah dilakukan selama delapan hari. Identitas Situs Sekaran, di Dusun Sekaran, Desa Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, sedikit demi sedikit mulai terkuak.  Situs tersebut merupakan bangunan kuno, berasal pada masa pra Majapahit atau sebelum abad XIV. Dugaan itu dikuatkan dengan temuan-temuan BPCB saat melakukan ekskavasi sejak Selasa (12/3) lalu.
"Berdasarkan bahan bata yang berukuran lebih besar dari ukuran bata di Kawasan Cagar Budaya  Trowulan, ditambah dengan temuan berupa fragmen porselen dan mata uang Cina yang didominasi berasal dari masa  Dinasti Song, maka kuat dugaan situs ini berasal dari zaman sebelum masa pra Majapahit," terang Andi.
Sementara arkeolog BPCB Provinsi Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho menyampaikan, jika tekstur batu bata pada situs cukup rapuh. Batu bata tersebut tak tahan hujan dan panas. Dia juga menyebutkan saat ini ekskavasi sudah dilakukan pada luasan lahan 380,703 meter persegi dengan grid berjumlah 32 kotak.
“Luasan ini melebihi target kami sebelumnya. Dan kami belum tahu, apakah ini masih lebih luas lagi, atau tidak. Karena sampai saat ini kami terus menggali,’’ kata pria yang akrab dipanggil Ucok ini.  Ucok juga mengatakan, grid dibuat dengan ukuran 4 m x 4 meter. Tujuannya adalah untuk memudahkan proses perekaman data. “Orientasi grid berdasarkan arah utara – selatan kompas. Dan dari grid ini pula diketahui situs ini menghadap ke Gunung Semeru dan membelakangi Gunung Kawi,’’ urainya.