Sisi Humoris Orang Madura

Judul Buku    : Kelakar Madura Buat Gus Dur
Penulis        : H. Sujiwo Tejo
Penerbit        : Imania, Tangerang Selatan
Cetakan        : I, 2018
Tebal        : 200 Halaman
ISBN        : 978-602-8648-25-7
Peresensi        : Ahmad Fatoni
Pengajar PBA Universitas Muhammadiyah Malang


MEMBINCANGKAN etnis Madura sering kali identik dengan dua hal, carok dan celurit, sebagai simbol watak orang Madura yang kasar. Orang Madura acap dideskripsikan oleh etnis lain dengan persepsi yang jauh berbeda dengan pandangan orang Madura tentang diri mereka sendiri. Menurut budayawan D. Zawawi Imron, gambaran orang luar tentang masyarakat Madura lebih beraroma negatif.
Stereotipe di atas tidak sepenuhnya benar dan tidak seluruhnya salah. Pandangan semacam itu lahir karena minimnya informasi tentang Madura. Pulau di sisi utara Jawa Timur tersebut memang menyimpan banyak cerita, bukan saja ketandusannya, tapi juga orang-orangnya yang berwatak humoris, unik, dan menggelitik.     
Melalui buku ini, Sujiwa Tejo menghadirkan kearifan Gus Dur dalam kelakar orang Madura dengan segala pernak-perniknya. Budaya dan cara pandang Madura yang memancing gelak tawa, sindirannya yang menghunjam, namun tersimpan hikmah yang menukik. Di balik kelakarnya Sujiwo Tejo seolah membangkitkan kesadaran kita untuk merenungkannya, sebuah kontemplasi tanpa batas.
Kontemplasi terhadap kepolosan dan keluguan orang Madura yang dibingkai dalam sosio-geografis, sosio-psikologis, ke-ngeyel-an, dan jawaban-jawaban yang cerdas atas suatu persoalan. Seperti saat berkisah tentang “Sepatu Tentara” (hal. 79 ) dan “Orang Madura Menjadi Gubernur Bank Indonesia” (hal. 98).
Mengutip Emha Ainun Nadjib dalam buku kumpulan anekdot yang berjudul “Folklore Madura” (2005), menyebut orang Madura sebagai The Most Favorable People. Pandangan ini berangkat dari pengamatan Cak Nun terhadap selera humor orang Madura yang segar dan cerdas meskipun terkesan “menyimpang” dari pikiran mainstream.
Kecerdasan orang Madura, misalnya, dapat kita simak dalam kisah anekdot tentang nelayan Madura yang ditangkap polisi Malaysia. Gara-gara banyak nelayan Malaysia ditangkapi aparat Indonesia, Cak Brodin seorang nelayan Madura ikut kena dampaknya. Ia sedang mencari ikan di dekat perbatasan Malaysia, saking asyiknya mencari ikan tanpa sengaja dia masuk wilayah teritorial Malaysia.
Tiba-tiba Cak Brodin dikejutkan suara raungan sirine polisi laut diraja Malaysia, dan tak lama kemudian tertangkaplah ia.
Polisi Malaysia: “Anda tahu kesalahan anda?”
Cak Brodin: “Saya ndak tahu pak.”
Polisi Malaysia: (Dengan nada tinggi) “Anda telah memasuki wilayah kami dan mencuri ikan di wilayah kami!!”
Dibilang mencuri, Cak Brodin sangat tidak terima. Darah Maduranya naik, karena dari kecil Cak Brodin sangat diwanti-wanti orangtuanya tidak boleh mencuri.
Cak Brodin: (Sambil menunjuk ikan di atas kapalnya, dan balik membentak) “Sampeyan jangan cem-macem Pak! Ikan ini, saya kejar dari Madura. Mereka baru ketangkep di sini!!”
Bagi Gus Dur, keluguan orang Madura dan jawaban-jawaban ngeyel mereka, yang kemudian sering jadi objek lawakan Gus Dur adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran. Bagi masyarakat Madura sendiri, Gus Dur dianggap memahami bahasa dan sosiokultural mereka. Itulah di antara sebab mengapa Gus Dur merasa begitu dekat dengan orang Madura.
Ada tiga poin penting dalam judul utama buku Kelakat Madura Buat Gus Dur, yakni Gus Dur, Madura, dan Kelakar. Ketiganya merupakan satu rangkaian yang saling terhubung atau dalam bahasa populernya mutual relationship. Ketiga poin ini masing-masing bisa berdiri sendiri, tetapi begitu terhubung, maka terjadilah simbiosis mutualisme yang dahsyat. Demikian tulis Inayah Wahid (putri ke-4 Gus Dur) dalam kata pengantar buku ini.
Dengan bahasa penuh canda tapi cerdik Sujiwo Tejo berhasil membuka kembali pori-pori kegembiraan, keluasan, kedalaman, dan keuhuran kelakar Gus Dur dan orang madura yang menjunjung tinggi ketulusan dan kejujuran. Membaca buku ini kita diajak tersenyum geli bahwa rumitnya kehidupan ini hanyalah permainan dan lucu-lucuan belaka.   

Berita Terkait