Siapa Bilang Membuat Buku itu Sulit

Judul Buku    : Dahsyatnya Silaturrahim, Bersih Hati Bersih Pikiran
Editor     : Fuad Ariyanto dan Slamet Oerip Prihadi
Penerbit     : Mavendra Pers
Tebal    : 173 halaman
Cetakan    : November 2018
Tahun    : 2018
Peresensi               : Husnun N Djuraid, redaktur Malang Post, dosen UMM


Bagi sebagian orang menerbitkan buku merupakan pekerjaan yang sulit. Banyak kerepotan yang harus dihadapi. Pekerjaan awal menerbitkan buku adalah menulis. Ini juga bukan pekerjaan mudah. Ada yang bisa menulis, tapi mungkin tidak bisa panjang sampai 200 halaman buku. Menulis Cerpen misalnya, mungkin sekitar 1500 kata sampai 2000 kata. Tapi menulis buku, butuh tulisan yang panjang. Artinya, butuh pemikiran yang panjang sekaligus untuk menuliskannya.
Itu baru urusan menulis. Proses berikutnya, menerbitkan akan menjadi masalah yang tidak kalah besar. Sudah mampu menulis naskah buku, tapi tidak semua penerbit mau menerbitkannya. Pasti penerbit akan melihat prospek buku itu, apakah layak jual atau tidak. Tidak mudah bagi penulis (pemula) untuk bisa menembus dunia penerbitan buku. Butuh perjuangan untuk bisa meyakinkan para penerbit tentang prospek buku tersebut.
Diantara keruwetan menerbitkan buku itu, ada satu buku yang diterbitkan dengan mudah dan dalam waktu singkat. Bukunya berjudul Dahsyatnya Silaturrahim Bersih Hati Bersih Pikiran. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari sebuah komunitas yang bernama Cowas (Konco Lawas) yaitu kumpulan mantan karyawan Jawa Pos. Ada wartawan, ada bagian iklan, ada bagian pemasaran, ada bagian distribusi dan bagian keamanan.
Para mantan karyawan Jawa Pos itu mengumpulkan tulisan yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Bermula dari kegiatan reuni dan HUT ke-3 kelompok tersebut. Bermula dari reuni dan peringatan HUT ke-3 di desa Pentingsari di bawah kaki puncak gunung Merapi. Sepulang dari reuni tersebut, para peserta menuliskan pengalaman selama dua hari reuni dan rekreasi di Yogyakarta. Tulisan itu kemudian diunggah di web cowas.com milik kelompok tersebut.
Melihat banyaknya minat anggota dalam menulis pengalaman di Yogyakarta, muncul ide dari salah satu anggota Cowas, Aqua Dwipayana, doktor ilmu komunikasi dari Unpad Bandung yang saat ini menjadi motivator nasional. Jurinya, seorang editor senior koran ternama di Jakarta. Minat anggota Cowas untuk mengikuti lomba tersebut sangat besar. Bukan hanya mantan redaksi, tapi mereka yang berkecimpung di pemasaran, iklan dan bagian lain ikut menuliskan pengalaman.
Alhasil, cukup banyak tulisan yang masuk. Mereka memotret acara reuni itu dari berbagai sudut pandang. Ada reportase biasa, ada yang nulis unsur mistis, unsur pariwisata dan banyak lagi. Tulisannya berwarna-warni. Juri kemudian menetapkan enam tulisan yang berhak menjadi juara. Mulai juara satu sampai tiga dan harapan satu sampai tiga. Enam tulisan itu memang layak meraih gelar juara. Para pemenang itu mendapat hadiah dari Aqua yang menjadi pemrakarsa lomba tersebut. Ada hadiah uang, hadiah tur ke Bali bahkan ada yang mendapat hadiah umrah.
Setelah lomba, Aqua puny aide untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Itu pun tak butuh waktu lama, karena harus terbit tepat pada tanggal 10 November 2018. Tim editor kerja keras untuk mengoreksi tulisan yang akan dibukukan. Di pihak lain, sudah ada percetakan milik anggota Cowas yang siap memproduksi. Yang lebih hebat lagi, sudah ada yang inden buku tersebut dalam jumlah yang sangat besar. Sebelum buku itu terbit, beberapa pejabat, petinggi BUMN dan pengusaha sudah inden. Bahkan Dirut Bank BNI A Baiquni menyumbang Rp 100 juta untuk penerbitan buku tersebut.
Tunggu apa lagi, kalau tulisannya sudah siap, percetakan dan penerbitan sudah siap, pasar sudah siap. Saat diluncurkan 10 November lalu, buku itu sudah terjual 5.000 buku. Ini merupakan angka fantastis bagi sebuah buku yang ditulis secara keroyokan. Jumlah itu diprediksi akan terus bertambah.
Apa rahasianya sampai buku ini begitu laris. Pertama, ada kebersamaan dan semangat diantara anggota Cowas dalam menulis. Kedua, ada dorongan motivasi untuk menghasilkan karya. Mereka punya keahlian menulis, maka itulah yang mereka perbuat. Meskipun sudah tidak aktif, tapi tulisan mereka masih sangat bagus.
Ketiga, ada Aqua Dwipayana yang sangat lihat memasarkan buku ini kepada para koleganya, pejabat pemerintahan, TNI dan Polri, CEO BUMN dan perusahaan swasta. Kebanyakan mereka membeli buku dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada para karyawannya. Bukum ini menjadi guidance, terutama dalam menerapkan komunikasi silaturrahim yang dianggap sebagai kunci sukses.
Melalui kerja sama dan semangat silaturrahim yang tak pernah putus, membuat buku yang awalnya nyaris mustahil, bisa diselesaikan dengan cepat dan mudah. Jadi, siapa bilang membuat buku itu sulit.

Berita Terkait