Sadari dan Sadarnis, Pengendali Kanker Payudara

Di era internet dan media sosial ini, informasi kesehatan kadang dimanfaatkan untuk sesuatu yang tidak etis. Menyebar kabar hoaks atau palsu. Informasi yang seharusnya akurat dan faktual pun sering dimanipulasi. Termasuk informasi pengobatan kanker payudara dari media sosial atau internet yang kadang justru menjerumuskan.
Kanker payudara termasuk jenis penyakit yang berbahaya bagi penderitanya. Hampir semua kasus kanker payudara dialami oleh wanita. Oleh karena itu, para wanita harus tahu seputar pengetahuan tentang penyakit ini dan bagaimana cara mendeteksinya. Banyak pengobatan alternatif menawarkan kemudahan melalui herbal atau terapi. Tetapi, kanker payudara hanya bisa diatasi dengan operasi.
Penyebaran terjadi melalui saluran getah bening yang sangat kaya di payudara.

Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 600 kelenjar getah bening. “Semua jaringan pembentuk payudara memiliki kemampuan menjadi ganas, yaitu berpotensi membesar cepat, menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan, dan menciptakan metastastis (penyebaran)” (hal 6).
Perlu dibedakan keganasan payudara dengan kanker payudara. Keganasan payudara meliputi sistem saluran dan kelenjar ASI, sistem pendukung payudara, penyebaran dan sebab lain. Kanker payudara adalah keganasan yang terjadi pada kantung dan/atau saluran penghasil susu. Tingkat bahaya keduanya sama, tetapi jumlah penderita kanker payudara jauh lebih banyak 90%.
Perubahan sel kelenjar air susu dan saluran kelenjar air susu dalam payudara normal berubah menjadi sel yang bersifat buruk. Sel ini tumbuh sangat cepat daripada sel normal, merusak jaringan sekitar, menyebar ke kelenjar getah bening, masuk ke pembuluh darah sampai ke organ lain, seperti tulang, paru-paru, liver/hati, bahkan otak, dan menyebabkan kegagalan fungsi organ-organ tersebut hingga dapat menyebabkan kematian (hal 8).
Jika dokter menganjurkan operasi, berarti masih dalam stadium awal. Operasi sangat dianjurkan karena merupakan tindakan yang lebih baik dalam mengendalikan kanker payudara, meskipun terdapat cara pengobatan lain, yakni radioterapi dan kemoterapi.
Kanker payudara bersifat menyebar dan kambuh. Tidak dikenal kata “sembuh”, tetapi kata “terkontrol” dalam lima tahun pertama, kedua, dan seterusnya. Tiga pilar yang dapat membantu adalah pola makan sehat, olahraga teratur, dan spiritual yang meningkat.

Harapan hidup biasanya mengacu pada waktu dalam bilangan angka, yaitu lima tahun. Artinya, seorang penderita kanker yang dapat bertahan hidup mencapai lima tahun, ini berarti penyakitnya terkontrol dengan baik (hal 31).
Faktor lain pengontrol kanker adalah faktor psikologis (mental dan semangat) dan faktor sosiokultural (pola hidup dan makan). Semakin dini kanker payudara diketahui dan diobati, harapan hidup akan semakin baik dan angka kekambuhan akan semakin rendah.
Strategi pengurangan risiko: hindari alkohol, hindari penggunaan obat-obat KB dan yang mengandung hormon, berlatih fisik, pengontrolan berat badan, melahirkan, dan menyusui (hal 116-117).
Kanker payudara dapat dikonsultasikan kepada dokter spesialis bedah onkologi/dokter spesialis bedah tumor, yang kesehariannya menangani kasus-kasus kanker payudara. Pria pun bisa terkena kanker payudara, dilaporkan satu persen dari semua kasus, berusia 58-69 tahun.
Sadari (Periksa Payudara Sendiri) banyak dianjurkan sebagai upaya mengenali perubahan pada payudara. Jika ada kelainan perlu ditindaklanjuti. Sadari harus diikuti dengan sadarnis (Periksa Payudara oleh Klinis) dan pemeriksaan imaging/pencitraan (mamografi dan/atau USG). “Pemeriksaan periodik dianjurkan kepada semua wanita. Sejak usia 20 tahun lakukan pemeriksaan teratur 1,5 tahun sekali. Setelah mencapai 40 tahun menjadi satu tahun sekali” (hal 122).
Buku ini disajikan lebih ringkas dan jelas dengan infografis menarik. Dapat menjadi salah satu pegangan wanita untuk berani deteksi dini dan berkonsultasi kepada dokter spesialis yang kompeten. Juga memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para keluarga penyintas kanker payudara. (*)

Berita Terkait